Sunday, October 12, 2008

SAATNYA UNTUK MENIKAH



"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi." (HR Tarmidzi dan Ahmad)
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
Saya tidak tahu apakah ini merupakan HUKUM SEJARAH YANG DIGARISKAN ALLAH.Ketika orang MEMPERSULIT APA YANG DIMUDAHKAN ALLAH, MEREKA AKHIRNYA BENAR-BENAR MENDAPATI KEADAAN YANG SULIT DAN NYARIS TAK MENEMUKAN JALAN KELUARNYA. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada ALASAN SYAR'I dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius. Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami SINDROM KEMAPANAN (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti HUKUM KATEGORI, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula KRITERIA TENTANG JODOH, ketika MENETAPKAN KRITERIA YANG TERLALU BANYAK MAKA AKHIRNYA BAHKAN TIDAK ADA YANG SESUAI DENGAN KEINGINAN KITA. Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalahnya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu KEKHAWATIRAN KETIDAKMAMPUAN MENCARI NAFKAH sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan KHAWATIR KEMATIAN lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan. WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN, MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN. Padahal Rasululloh berpesan: ?Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH TIBA WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA." (HR Ahmad) Hadis ini menunjukan agar TIDAK BOLEH MEMPERSULIT PERNIKAHAN BAIK LANGSUNG MAUPUN TAK LANGSUNG. Secara LANGSUNG adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang TIDAK SECARA LANGSUNG. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan Sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri. Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir akan KERUHNYA NIAT dan BERGESERNYA TUJUAN. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Naudzubillah Penyebab lain adalah LEMAHNYA KEYAKINAN KITA BAHWA ALLAH PASTI AKAN MEMBERI REZEKI atau bisa jadi CEERMINAN DARI SIFAT TIDAK QONA'AH (MENCUKUPKAN DIRI DENGAN YANG ADA). PILIHLAH YANG BERTAKWA Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata: "KAWINKANLAH DIA DENGAN ORANG YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH. SEBAB, JIKA LAKI-LAKI MENCINTAINYA, IA MEMULIAKANNYA, DAN JIKA IA TIDAK MENYENANGINYA, IA TIDAK AKAN BERBUAT ZALIM KEPADANYA." Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk MEMBENAHI PIKIRAN. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa, cinta yang semula tak ada meski cuma benihnya, dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa. Wallahu alam bi showwab. REFERENCE: Seminar Keluarga Sakinah, 16 Ogos 2002 (Keluarga Muslim)

Saturday, October 11, 2008

INGINKAN IA UNTUK AKU.......


Sebuah pesan masuk di ponselku, segera kuraih dan kubaca pesan itu, ternyata dari sobatku Faizal. “Ass akhi, insyaAlloh ada pertemuan Dewan Syuro dg para pengurus LDK, u/ membahas dakwah kita, antum bisa?, sekalian ada yang ingin ana diskusikan sama antum”. Sesaat kemudian aku tekan tombol reply, aku tulis

“Www. InsyaAlloh, kapan?” Lalu aku kembali menekan tombol di ponselku itu untuk mengirimkan pesan tersebut. Pesan terkirim. Ponsel itu masih kugenggam. Aku buka pintu kamar kontrakanku, semilir angin senja kota kembang langsung menyapaku. Kutarik nafasku, merasakan nikmatnya hidup di kesekian waktu yang dipercayakan Alloh untuk aku arungi. Kedua bibirku dengan lirih berucap syukur pada-Mu ya Rabb atas segala nikmat yang telah engkau anugerahkan. Sebuah kursi kayu yang bersandar disebelah tempat tidurku pun kini aku duduki. Di depannya sebuah meja kecil yang juga masih terbuat dari kayu berdiri. Ada beberapa buah buku berjilid tebal bertuliskan Tafsir Fii Zhilalil Quran masih terbuka disana. Sesaat kemudian sebuah ringtone nasyid Raihan kembali berbunyi di ponselku. “InsyaAlloh acaranya ahad pagi pukul delapan di Daarul Ihsan”.

Aku mencoba mengingat-ingat takutnya sudah ada janji yang aku buat di waktu tersebut. “InsyaAlloh ga ada”, gumamku Aku mengiyakan pada Faizal untuk ikut bergabung di acara pertemuan Dewan Syuro dan para pengurus LDK tersebut. Menjadi aktifis kampus memang mungkin sudah tidak layak lagi gelar itu aku sandang, karena alhamdulillah enam bulan yang lalu aku sudah resmi menjadi seorang sarjana, yang berarti seharusnya aku terlepas dari predikat mahasiswa dan terlepas juga dari segala rutinitas selama menjadi bagian dari kampus itu.

Namun, sebuah amanah yang cukup berat tidak bisa kutolak ketika Syuro memutuskan aku menjadi salah satu anggotanya, setelah aku menyelesaikan amanahku sebagai ketua umum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) setahun yang lalu. Dewan syuro ibaratnya menjadi lembaga legislatif yang akan membantu pelaksanaan dakwah sekaligus juga sebagai dewan penasehat para eksekutif di sebuah LDK. Apalagi jika aku teringat firman Alloh dalam Al Quran yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berangkat dan berjihad di jalan Alloh meskipun dengan rasa ringan maupun berat. (Q.S At Taubah : 41) .Ada rasa malu yang menyesak dalam dada ini ketika satu persatu maknanya aku selami. Dalam hati aku bertanya, “Bukankah ini juga salah satu jihad dijalan Alloh?”. Lembayung senja mulai nampak menyeruakkan cahayanya masuk di sela-sela pintu kamar kontrakanku. Tidak lama berselang sebuah panggilan suci menggema hampir diseluruh penjuru kota kembang. “Allahu akbar Allahu akbar ... Allahu akbar Allahu akbar ... Asyhadu anla ilaaha illallah ... Asyhadu anla ilaaha illallah ... Asyhadu anna muhammadarasulullah ... Asyhadu anna muhammadarasulullah ... Hayya ‘alashshalah Hayya ‘alashshalah ... Hayya ‘alalfalah Hayya ‘alalfalah ... Allahu akbar Allahu akbar ... Laa ilaaha illallah ...”

Aku bergegas menuju sebuah mushola yang tak jauh dari kamar kontrakanku. Sebuah kain sarung bercorak kotak warna biru lengkap dengan baju koko warna putih menjadi pilihanku untuk menghadap panggilan suci-Mu. * * * Daarul Ihsan, sebuah mesjid kampus yang ada di sebelah fakultasku dulu masih tampak sepi.

Memang aku sengaja berangkat lebih pagi dari acara pertemuan yang telah kami janjikan. Aku tersenyum, mengingat saat-saat ketika kami selalu bersama mendiskusikan jika ada masalah dakwah di kampus kami setahun yang lalu. Dari sini, di tempat ini biasa terlahir gagasan-gagasan cemerlang untuk memecahkan beberapa permasalahan ummat. Ada kalanya kami harus sampai berdebat panjang hanya dalam mencari sebuah solusi. Namun memang benar, perbedaan adalah rahmat. Dari perdebatan perbedaan pandangan biasanya kami lebih memahami dan mengerti akar permasalahan itu sebenarnya. Sinar mentari pagi menyelinap disela-sela dedaunan, bagaikan mata-mata para pribumi yang mengintip siapa yang datang dari balik tirai jendela. Aku tertegun sejenak ... Tiba-tiba ... “Assalamu’alaykum akh, bagaimana kabarnya antum?” Seorang laki-laki dengan kulit putih, rambut agak ikal dan janggut tipis di dagunya menyapaku sambil tersenyum. “Wa’alaykumsalam warahmatullaah ..., alhamdulillah”, jawabku sambil membalas senyumnya. Faizal kini berdiri disampingku. Aku masih ingat pertemuan kami pertama kali sekitar empat tahun yang lalu. Kami bertemu didepan gedung Rektorat, ketika sama-sama akan mengurus beasiswa yang kami dapatkan pada tahun pertama di kampus ini.

Tak kusangka pertemuan itu telah mengantarkan kami dalam sebuah persahabatan. Selama empat tahun menimba ilmu, menjadi bagian di kampus ini, kami tinggal di tempat yang sama. Suka duka biasa kami bagi bersama. Rasa persahabatan itu mungkin kini lebih mirip dengan sebuah ikatan kekeluargaan. Ibarat seorang kakak dan adik yang tumbuh dalam sebuah keluarga. Apapun masalah yang kami hadapi, kami biasa membicarakannya berdua. Mulai dari masalah kuliah sampai ke masalah pribadi sekalipun, termasuk jika membicarakan tentang mereka, tentang akhwat yang kami kagumi. Ya... memang berkali-kali kami harus beristighfar ketika pembicaraan mengarah ke masalah tersebut. Yang kami takutkan adalah kami terlena dengannya. Meski kamipun sadar bahwa sewajarnya seorang manusia memang selalu memiliki rasa ketertarikan jika dipertemukan dengan lawan jenis yang dikaguminya. Kerikil-kerikil kecil menemani langkah kami menghampiri Daarul Ihsan. Sesaat kemudian kami telah berada disebuah ruangan lebar berhiaskan ayat-ayat suci di dindingnya. Kurebahkan tubuhku diatas hamparan sajadah, dinginnya lantai masjid ini masih dingin sedingin ketika kami biasa berada disana seusai shalat berjamaah setahun yang lalu. Pukul delapan tepat, kami memulai acara pertemuan. Ada sekitar duapuluh orang yang hadir di sana saat itu. Lantunan ayat-ayat indah firman Illahi mengalun membuka pertemuan kami. Berharap menambah keberkahan dan meluruskan niat kami dalam pertemuan tersebut dan dalam menjalani perjalanan panjang kehidupan ini. Faizal melanjutkan acara dengan menguraikan masalah yang akan dibahas pada pertemuan tersebut. “Ikhwah, masih ingat dengan anak-anak jalanan yang biasa ada di depan kampus kita?. Ana dapat kabar seminggu yang lalu, ternyata masalah kristenisasi sekarang sudah sampai pada mereka. Ada diantara mereka yang kini telah beralih aqidah karena hasutan dan bujuk rayu mereka para misionaris”, ujar Faizal panjang lebar. “Astaghfirullah”, dalam hati ku beristighfar, ada kesedihan yang membuncah dalam dada ini. Selanjutnya kami mencoba membahas masalah tersebut, mulai dari pembahasan mengapa masalah tersebut bisa terjadi sampai kepada merumuskan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Ada beberapa keputusan yang kami sepakati saat itu, satu diantaranya kami akan mencoba untuk melakukan pendekatan secara personal kepada mereka para anak jalanan. Berikhtiar mudah-mudahan mereka bisa lebih terbuka, dan disaat mereka terbuka pada kami, kami akan mencoba untuk menyadarkan mereka kembali akan makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin dalam diri-diri mereka. Pukul sepuluh tepat pertemuan kami akhiri. Aku pamit bermaksud untuk lebih dulu meninggalkan forum. Saat itu aku bermaksud ke warnet di depan kampus untuk memeriksa beberapa e-mail yang mungkin masuk di file inbox-ku dari rekan-rekan di millist, serta memasukkan beberapa artikel yang telah aku tulis. Namun, belum genap langkahku, Faizal memanggilku. “Akh Fadhil, afwan boleh minta waktunya sebentar?” Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sebuah kursi bambu di dekat taman mesjid aku pilih sebagai tempat untuk ngobrol dengan Faizal. “Akh, jujur ana lagi bingung”, Faizal memulai bicaranya. “Bingung kenapa emangnya akh?”, tanyaku. “Seminggu yang lalu ibu bapakku menghubungi, beliau meminta ana untuk menikah dengan seseorang yang telah mereka pilihkan dikampung, padahal ana bermaksud ingin melanjutkan kuliah di Al Azhar akhir tahun ini ... ”. Faizal menarik nafasnya ... “Katanya ga usah khawatir, akhwat itu juga lulusan universitas, akhlaknya juga baik dan semasa kuliahnya ia juga termasuk mahasiswi teladan dikampusnya”, lanjut Faizal mencoba menerangkan. “Terus Farah gimana akhi?”, celotehku sambil tersenyum menggoda dia. Farah Aina Fadilah memang seoarang akhwat aktifis kampus juga yang dulu biasa kami bicarakan, dia masih satu angkatan dengan kami, hanya beda fakultas. Faizal memang sepertinya mengaguminya, bukan hanya cantik wajahnya, namun akhwat berkulit putih yang biasa memakai kacamata itu beberapa kali harus membuat kagi berdecak kagum karena aktifitas dakwahnya yang luar biasa. Biasanya jika aku goda Faizal dengan membicarakan Farah, ia selalu membalasnya dengan membicarakan Rahma, teman dekatnya Farah yang ia kira aku juga mengaguminya. Jujur memang aku kagum pada mereka berdua. Tapi, bukan ia sebenarnya yang lebih aku harapkan bisa menjadi pendampingku kelak. Seorang mahasiswi teladan berwajah ayu, berjilbab lebar, jebolan pesantren, pernah terpilih menjadi salah satu peserta MTQ Nasional, yang sangat terjaga pergaulannya yang bernama Alifa Nurul’aini telah lebih dulu mengisi relung hatiku. Aktifitasnya sebagai ketua bidang keputrian di LDK kami saat itu, kadang membuat aku iri kepadanya. Selalu ada yang lebih aku rasakan ketika aku bertemu dengannya. Ada rasa harap dalam diri, ia kelak bisa aku sunting untuk mengarungi hari-hari bersama dalam rumah tangga. Namun baik aku maupun Faizal memang hanya sebatas mengagumi mereka, mengungkapkan secara terus terang kepada mereka atas perasaan yang dirasakan bisa menjadi bumerang bagi kami. Kami bertekad satu saat nanti biarlah jika kami memang sudah siap untuk berumah tangga, kami akan datang langsung kepada orang tua mereka untuk meminangnya. Tidak saat ini, ... Aku mencoba menyarankan sebuah solusi pada Faizal, untuk kembali menyerahkan atas persoalan yang dihadapinya pada Ia sang maha segalanya. Allah SWT. Istikharah, memang selalu menjadi pilihan ketika hati ini bimbang dalam menentukan pilihan.

Begitupun saat itu, aku menyarankan Faizal untuk rajin beristikharah, memohon yang terbaik. “Atau mungkin jika antum menikah dulu lalu melanjutkan studi ke Al Azhar, akhi?”, tanyaku. “Memang itu juga sempat terpikir oleh ana, namun ana berharap semoga ada yang terbaik untuk masalah ini”, jawab Faizal. “InsyaAlloh, Alloh akan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya akh”, lanjutku sambil tersenyum, menepuk pundak Faizal. Ia membalasnya sambil berucap, “Jazakalloh akhi, antum memang saudara terbaikku”. Matahari mulai beranjak semakin tepat diatas kepala kami, ketika semilir angin masih setia berhembus. Sekali-kali deru kendaraan menghiasi suasana jelang siang di area kampus, ditengah kota kembang itu. * * * Satu bulan berlalu, kota kembang mulai memasuki musim hujan. Langit mendung dihiasi rintik air hujan menjadi pemandangan yang biasa hadir dalam hari-hari belakangan ini. Alhamdulillah, aku baru saja menyelesaikan reka’at-reka’at ku di sepertiga malam yang indah ini. Menghadap Ia di heningnya malam dalam sujud-sujud panjangku. Mengadu atas segala khilaf dan salah serta memohonkan ampunan dalam tangis dan do’aku. Aku teringat Faizal. Sejenak kuraih ponselku ketika aku berniat menanyakan tentang kabarnya. Tapi belum selesai aku menuliskan isi pesan untuk aku kirimkan kepada dia, sebuah pesan lebih dulu masuk. Aku buka dan aku baca. “Ass akh, insyaAlloh ana berniat mengambil langkah untuk menjalin rumah tangga, dan seusai walimah ana berniat membawa istri ana untuk bersama ke Cairo, meniti langkah baru disana sambil mengejar cita di Al Azhar”. Sebuah pesan dari Faizal lebih dulu masuk di ponselku. Dalam hati kuberucap hamdalah, dan berdo’a semoga ini memang jalan yang terbaik baginya. * * * Sebuah pesta di pinggiran kota kembang kini siap menjemput kebahagiaan sobatku Faizal. Bagaimana tidak, menjadi seorang imam dari seorang bidadari shalelah yang diharap daripadanya dapat terjalin keluarga sakinah, mawaddah warahmah serta terlahir generasi-generasi pejuang pemersatu ummat, setahap lagi akan ia raih. Para undangan semakin memadati pesta pernikahan sobatku. Aku yang saat itu bertugas untuk mengurusi para undangan harus extra keras mengatur kenyamanan mereka. Meskipun malam tadi aku tidak tidur sama sekali mengurusi persiapan pesta penikahan sobatku itu. Tidak sempat lagi aku memperhatikan situasi didalam ruangan walimah. Tepat pukul sembilan pagi, protokoler acara memulai acara walimah, sesekali aku sempatkan untuk melirik ke arah sobatku sambil tersenyum. Ia pun membalas senyumku, seolah berkata, “Terima kasih sobat”. Sesaat kemudian acara walimah akan segera dimulai, dan kini Faizal telah berada didalam ruangan ketika aku masih sibuk mengurusi para undangan. Aku sandarkan tubuhku pada sebuah tiang didepan ruangan walimah untuk memperhatikan ketika sobatku mengucap ijab kabul pernikahannya. Meskipun hanya dari sebuah pengeras suara. Namun, alangkah tersentak kagetnya aku ketika satu persatu kata-kata itu terucap ... “Qobiltu nikahaha Alifa Nurul’aini binti Muhammad Azzam bi mahari .... naqdan ......” Hampir aku tersungkur lemah mendengar semua itu ... “Astaghfirullah yaa Alloh ....., kuatkan diri ini ....”, jeritku dalam hati Ingin rasanya aku berteriak, berlari dan mengangkat telunjukku, mengarakhan pada Faizal, sambil memuntahkan segala sumpah serapahku !!! Namun, aku sadar semua hanya akan berbuah sia-sia. Seluruh hadirin telah mengesahkan ijab kabul yang terucap dari bibir sobatku Faizal. Faizal pun tak layak dipersalahkan, karena ia memang tidak mengetahui apa yang aku harapkan dari seorang Alifa. “Mengapa mesti dia ....”, kembali dalam hati kuterisak Aku berlari, tidak lagi aku pedulikan suasana riuh rendah para tamu undangan, tidak lagi aku perhatikan beberapa teman yang memanggil namaku saat itu, aku meninggalkan pesta pernikahan Faizal. Pernikahannya dengan seorang bidadari yang sesungguhnya lebih aku harapkan dapat hadir sebagai pendamping hidupku, peneguh jalanku ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Namun kini ia telah menjadi milik orang, yang mana orang itu adalah sobatku sendiri. Langkahku terhenti didepan sebuah masjid, kubasuh diri ini dengan air wudhu ... aku tak lagi mampu menahan air mataku, jatuh dan berlalu bersama percikan air wudhu. Aku terjatuh ... lunglai bersujud dihadapanmu ya Rabbi. Aku tahu, bahkan aku sangat tahu dan yakin akan semua yang terbaik dari-Mu, namun mengapa mesti ini yang terjadi ??? * * * 10 tahun berlalu ... Aku masih terduduk di sebuah kursi rotan di depan sebuah rumah kecil namun asri, menikmati secangkir kopi sambil melihat tayangan berita di acara berita pagi sebuah stasiun televisi. Kicauan burung menghiasi indahnya taman bunga yang tumbuh didepan rumahku. Seorang pria berkulit putih dengan janggut tipis dan rambutnya yang agak ikal tampil di sebuah berita sebagai seorang Duta Besar paling muda yang pernah ada di Indonesia. Aku tersenyum bangga, “Faizal ... alhamdulillah ...”, lirihku .... Sesaat kemudian aku berdiri, jauh di ujung sana seorang bidadari sedang bermain bersama dua malaikat-malaikat kecil kami. Ya ... seorang akhwat berjilbab lebar, berkulit putih, berparas cantik, bernama Farah Aina Fadilah telah Alloh pilihkan untuk menjadi bidadariku menyusuri hari, mengaharap ridho Illahi, dalam balutan suci sebuah rumah tangga. “Alhamdulillah yaa Rabb, kupanjatkan syukur pada-Mu ..., kuasa-Mu begitu tak pernah terkira ...”.

KISAH GHULAM



PDF

Pengorbanan seorang budak demi Risalah, dan realiti kisah ini dengan kita

Dari Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir.

Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, ‘Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku telah dekat. Karena itu, utuslah kepadaku seorang anak muda agar aku ajari sihir’.

Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian ia ajari sihir. Dan jalan antara raja dengan tukang sihir itu terdapat seorang rahib. Pemuda itu mendatangi sang rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Sang pemuda begitu kagum kepada rahib dan pembicaraannya.

Begitu ia sampai kepada tukang sihir karena terlambat serta merta ia dipukulnya seraya ditanya, ‘Apa yang menghalangimu?’

Dan bila sampai di rumahnya, keluarganya memukulnya seraya bertanya, ‘Apa yang menghalangimu (sehingga terlambat pulang)?’

Lalu, ia pun mengadukan halnya kepada sang rahib. Rahib berkata, ‘Jika tukang sihir ingin memukulmu katakanlah, aku terlambat karena keluargaku. Dan jika keluargamu hendak memukulmu maka katakanlah, aku terlambat karena (belajar dengan) tukang sihir’.

Suatu kali, ia menyaksikan binatang besar dan menakutkan yang menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak bisa menyeberang. Maka sang pemuda berkata, ‘Saat ini aku akan mengetahui, apakah perintah ahli sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib. Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada perintah tukang sihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia bisa menyeberang’. Lalu ia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh kemudian ia pergi. Maka ia beritahukan halnya kepada rahib. Lalu sang rahib berkata, ‘Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku.

Selanjutnya, pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya. Alkisah, ada pejabat raja yang tiba-tiba buta. Ia mendengar tentang pemuda itu. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, ‘Sembuhkanlah aku, dan engkau boleh memiliki semua ini! Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak bisa menyembuhkan seseorang. Yang bisa menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla. Jika Anda beriman kepada Allah dan berdo’a kepadaNya, niscaya Ia akan menyembuhkanmu. Ia lalu beriman dan berdo’a kepada Allah dan sembuh.

Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. Sang raja bertanya, ‘Wahai fulan, siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku’. Raja berkata, ‘Saya?’ ‘Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’, tegasnya. Raja bertanya, ‘Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’. Demikianlah, sehingga ia terus-menerus disiksa sampai ia menunjukkan kepada sang pemuda. Pemuda itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya’. Sang pemuda menangkis, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Raja berkata, ‘Aku?’ ‘Tidak!’, kata pemuda. ‘Apakah kamu punya Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.

Lalu ia pun terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib. Maka rahib itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada pejabat raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada sang pemuda juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak.

Lalu bersama beberapa orang ia dikirim ke gu-nung ini dan itu. (Sebelumnya) sang raja berpetuah, ‘Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka bila ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia! Mereka pun berangkat. Ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu. Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga se-muanya tergelincir. Lalu sang pemuda datang mencari sampai bisa bertemu raja kembali. Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’ Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.

Kembali ia dikirim bersama beberapa orang dalam sebuah perahu kecil. Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan (maka biarkanlah ia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut yang luas dan dalam’. Sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu’. Akhirnya mereka semua tenggelam dan sang pemuda datang lagi kepada raja.

Sang raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’

Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.

Lalu sang pemuda berkata, ‘Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan maka engkau akan bisa membunuhku. Jika tidak, engkau tak akan bisa membunuhku’.

Raja penasaran, ‘Perintah apa?’

Sang pemuda menjawab, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari wadah panahku, lalu ucapkan, ‘Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah, Tuhan sang pemuda).

Maka (raja memanahnya) dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang kena panah lalu meninggal dunia. Maka orang-orang berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tahukah Anda, sesuatu yang selama ini Anda takut-kan? Kini sesuatu itu telah tiba, semua orang telah beriman.

Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Dan raja pun bertitah, ‘Siapa yang kembali kepada agama-nya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka lemparkanlah dia ke dalamnya’. Maka orang-orang pun menolaknya sehingga mereka bergantian dilemparkan ke dalamnya. Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Tiba-tiba sang bayi berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”

(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 6/16-18, Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah.

Dan An-Nasa’i serta Hammad bin Zaid menambahkan, yang keduanya dari Tsabit. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Abdurrazak dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanad darinya.

Ibnu Ishaq memasukkannya dalam Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At-Tamir).

Friday, October 10, 2008

JANGAN MELAMPAUI BATAS



Bagaimana orang-orang Atheis(iaitu orang yang tidak mengakui kewujudan Tuhan)mengingkari ALLAH dan orang yang ingkar mengingkari nikmat ALLAH.Sesungguhnya rahmat ALLAH mencukupi segala sesuatu bahkan terhadap orang jahat sekalipun.

Betapa ramai orang muslim yang tidak mendirikan solat,derhaka kepada orang tua,namun ALLAH tidak terus menurunkan azabnya kepada mereka melainkan memberikan peluang waktu yang cukup lama kepada mereka untuk kembali kepada-Nya.

Bukankah ALLAH telah berfirman dalam sebuah hadith qudsi:Wahai hamba-hambaku,sesunguhnya kamu sentiasa berbuat dosa siang dan malam,tapi Aku sentiasa pula bersedia mengampuni dosa kamu.Maka mohonkanlah ampun kepada-Ku nescaya Aku mengampuni kamu.

Sunday, September 21, 2008

PROFILE SYUHADA



Dia adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara. Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal batas. Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan dunia.

PROFILE MB NEGERI KEDAH



ASAL
Anak kelahiran Sungai Limau Dalam, Yan, Kedah
Dilahirkan pada tahun 1944
Ayahnya, Haji Abdul Razak Haji Awang adalah imam dan pimpinan masyarakat setempat serta salah seorang pejuang kemerdekaan menentang British
PENDIDIKAN
Sekolah Kebangsaan Sungai Limau
Maktab Mahmud, Alor Star (1959 - 1965)
Universiti Al-Azhar
University Of Kent, Canterbury
KERJAYA
Tenaga pengajar Maktab Mahmud, Alor Star (1966)
Ketua Jabatan Syariah, UKM
Pensyarah pelawat Mindanao State University, Filipina
Pensyarah UIAM (1983-1984, 1986-1995)
PENGALAMAN ANTARABANGSA
Muktamar Al-Haj anjuran All Indian Iranian Association di New Delhi (1980)
Pembentangan Kertas Kerja di 1st Asean Syariah Administration Conference Workshop - Manila (1983)
Persidangan Gerakan Islam Sedunia, Lubnan (2001)
Conference of South East Asia Islamic Law, Manila
PENULISAN ANTARABANGSA
Dirasah Hawla At-Tashriq Al Islami, terbitan Kementerian Hal Ehwal Agama Filipina
Introduction To Islamic Law Jurisprudence, terbitan Office of Muslim Affair and Cultural Communities, Quezon City, Filipina, 1986
Syariah, Adat And Command Law Amongst the Maranaos of Southern Philippines : And Exploratory and Corporative Study, terbit Southeast Asian Studies Program

KERETA LAMA MASIH BOLEH DIGUNA

Written by PAS Kedah
Thursday, 07 August 2008

Alor Star - Semua Exco Kerajaan Negeri menggunakan kenderaan yang sedia ada apabila mengambil alih pentadbiran negeri Kedah. Kenderaan Proton Perdana V6 Eksekutif ini akan diperbaiki apabila mengalami kerosakan. Kerajaan Negeri tidak bercadang untuk membeli kenderaan baru, kata Menteri Besar Kedah YAB Dato’ Seri Ustaz Azizan Abdul Razak.

Setakat ini hanya seorang Ahli Exco Kerajaan Negeri menggunakan kenderaan baru itupun disebabkan kereta yang lama tidak boleh digunakan lagi.

“Ini kerana lebih dari sekali kereta berkenaan rosak sehingga Ahli Exco berkenaan terpaksa mengambil teksi untuk menghadiri mesyuarat,” katanya pada sidang akhbar sebelum Mesyuarat Mingguan Exco Kerajaan Negeri hari ini.

“Kereta-kereta Proton Perdana V6 Eksekutif yang dipakai oleh semua Ahli Exco sekarang boleh dikatakan semua sudah uzur tetapi masih boleh dipakai apabila dibaiki. Kita tidak bercadang untuk membeli yang baru.. Sekiranya terpaksa membeli kereta yang baru kita tetap memilih jenis Proton,” katanya.

Saturday, September 20, 2008

ALAHAI SARAWAK!!!!!!!!!

“Di Sarawak ni, ada orang kata kat saya yang Islamnya kat sini ialah Islam sepertimana kita di zaman 60-an atau 70-an kat Semenanjung dahulu. Ada ustazah yang pakai tudung main ikat kat leher je, pakai kebaya ketat..”..

Itulah gambaran yang pernah diberikan kepada hadirin dalam suatu majlis berkaitan pergerakan da’wah di Sarawak ini, yang turut saya sertai dalam tahun 2006 yang lepas. Amat jelas kepada kita tentang gambaran bahawa kurangnya kesedaran serta kefahaman terhadap Islam di kalangan masyarakat Islam di Sarawak. Saya akui bahawa itulah hakikatnya yang berlaku di negeri tanah air tercinta, tempat kelahiran saya sendiri; Sarawak. Kedangkalan dari segi ilmu agama Islam serta penghayatannya dalam kehidupan. Di masjid-masjid atau di surau-surau, kebanyakan pengunjung setianya hanyalah dari kalangan warga emas.