Saturday, January 10, 2009

YA ALLAH SELAMATKANLAH SAUDARAKU DI PALESTIN



MALAM KEMPEN KESEDARAN UMMAH

11 Januari 2009
Bertempat di Pusat Islam UPMKB
Jam 6.30-10.00pm
Muslimin muslimat dijemput hadir bagi memupuk kesedaran kita tentang saudara kita di Palestin.Ayuh pemuda dan pemudi islam bangun menentang yahudi laknatullah.

Thursday, January 8, 2009

SAUDARA SEISLAM KITA DI PALESTIN MENDERITA SEKARANG!!!!!!!!!!!!!!

INTIFADAH

Intifadah, yang berarti “pemberontakan” dalam Bahasa Arab, adalah nama untuk perjuangan yang dilakukan oleh sekelompok orang Palestina, yang bersenjatakan batu-batu, melawan salah satu musuh terbesar dunia, yaitu orang yang menjawab lemparan batu itu dengan peluru, roket, dan rudal. Memang, mereka jarang sekali ragu-ragu menjadikan orang yang tidak pernah melempar batu sebagai sasaran mereka, bahkan mampu membunuh lusinan anak-anak dengan cara tak berperikemanusiaan.

Intifadah pertama memasuki panggung politik pada 1987, dimulai dengan pemuda Palestina yang membalas pembunuhan enam anak-anak Palestina oleh tentara-tentara Israel. Berlanjut hingga 1993, Intifadah menghadapi tanggapan yang sangat keras dari Israel, berdasar prinsip bahwa “kekerasan melahirkan kekerasan,” Timur Tengah kembali terjatuh ke dalam kekacauan. Sepanjang masa ini, perhatian dunia tertuju pada kasus anak-anak yang tempurung kepalanya pecah dan tangan-tangan mereka dipatahkan oleh para tentara Israel. Orang-orang Palestina, dari yang paling muda hingga yang paling tua, menentang kekerasan militer Israel dan penindasan dengan sambitan batu apa pun yang dapat mereka temukan. Sebagai balasannya, tentara Israel secara besar-besaran memberondongkan senjatanya: menyiksa, mematahkan tangan, dan menembaki lambung dan kepala orang-orang dengan tembakan senapan. Pada tahun 1989, sebanyak 13.000 anak-anak Palestina ditahan di penjara-penjara Israel.

Apa pun alasannya, memilih cara kekerasan tidak pernah memecahkan persoalan. Dan kembali, kenyataan penting harus dicamkan ketika merenungkan tanah tempat Intifadah terjadi. Pertama-tama, karena diperkuat oleh keputusan PBB, tentara Israel menggunakan kekuatan yang, sejalan dengan hukum internasional, seharusnya dijauhi. Meskipun sudah diperkuat aturan, jika Israel menuntut agar keberadaannya di tanah ini diterima, cara menunjukkannya tentu bukan dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Karena semua orang yang waras pastilah sepakat, jika salah bagi orang-orang Palestina memilih kekerasan, maka pastilah juga salah bagi tentara-tentara Israel membunuh mereka. Setiap negara memiliki hak membela diri dan melindungi dirinya, namun apa yang telah terjadi di Palestina jauh dari sekedar membela diri.

Tentara pendudukan Israel menanggapi batu-batu dan ketapel remaja Palestina dengan senapan otomatis dan peluru tajam. Oleh karenanya setidaknya beberapa orang Palestina meninggal setiap hari.

Selama tahun-tahun Intifadah, sebuah peristiwa terjadi di desa Kristen Beit Sahour di dekat Bethlehem. Kejadian ini, yang disaksikan oleh penduduknya Norman Finkelstein, hanyalah satu dari banyak contoh yang tidak mendukung bahwa campur tangan militer didorong oleh keinginan membela diri:

Suatu kali di kamp pengungsian Jalazoun, anak-anak membakar ban ketika sebuah mobil menepi. "Pintu dibiarkan terbuka, dan empat pria (pemukim Israel maupun tentara berpakaian preman) melompat keluar, menembak membabi buta ke segala penjuru. Anak-anak di samping saya tertembak di punggungnya, peluru keluar dari pusarnya… Hari berikutnya Jerussalem Post melaporkan bahwa tentara itu menembak untuk membela diri."94

Intifadah rakyat Palestina, yang dilakukan dengan sambitan batu dan pentungan untuk melawan tentara paling modern di dunia, berhasil menarik perhatian internasional pada wilayah ini. Gambar-gambar yang intinya mengenai pembunuhan tentara Israel atas anak-anak berusia sekolah sekali lagi menunjukkan kebijakan teror pemerintah pendudukan. Masa ini berlanjut hingga Kesepakatan Oslo tahun 1993, ketika Israel dan PLO duduk bersama di meja perundingan. Pada pertemuan ini, Israel mengakui Yasser Arafat untuk pertama kalinya sebagai perwakilan resmi rakyat Palestina.

Setelah Intifadah pertama mencapai puncaknya dalam kesepakatan damai, rakyat menunggu dengan sabar perdamaian dan keamanan kembali ke wilayah Palestina. Penantian ini berlanjut hingga Sepetember 2000, ketika Ariel Sharon, yang dikenal sebagai “Penjagal dari Libanon,” melakukan kunjungan yang menghebohkan ke Mesjid al-Aqsa bersama puluhan polisi Israel. Kejadian ini memicu bangkitnya Intifadah al-Aqsa.


Untuk menghentikan pertumpahan darah di Palestina, kedua pihak harus menghentikan kekerasan. Dan untuk mencapai perdamaian abadi, Israel harus menyudahi pendudukannya dan sepenuhnya menarik diri dari Daerah Pendudukan. Orang-orang Palestina harus diberi hak membangun negara merdekanya di atas tanahnya sendiri.

Rasa sakit dan penderitaan tak berujung orang-orang Palestina meningkat dengan adanya Intifadah al-Aqsa. Saat ini, tiap hari ada laporan yang menyebutkan anak-anak dan remaja meninggal di wilayah-wilayah Palestina. Semenjak awalnya di bulan September 2000 hingga Desember 2001, sebanyak 936 orang Palestina tewas (angka-angka ini bersumber dari Organisasi Kesehatan Palestina).95 Sepanjang pertikaian, satuan-satuan tentara Israel menjadikan banyak warga sipil, termasuk anak-anak yang pulang sekolah sasaran pengeboman dengan helikopter.

Tentara Israel menggunakan senjata mereka bukan untuk melucuti senjata anak-anak Palestina, melainkan untuk membantai dan membunuh mereka. Suleiman Abu Karsh, wakil menteri perdagangan Palestina, menyatakan perasaan rakyatnya mengenai Intifadah ini dalam sebuah wawancara:

Intifadah ini terlahir dari kekejaman Zionis Israel dan provokasi terhadap rakyat Palestina dan hal-hal yang kami anggap suci. Karena ikatan kuat rakyat Palestina terhadap tempat-tempat suci ini, khususnya Mesjid Aqsa, yang merupakan kiblat pertama Muslimin, mesjid mereka, dan salah satu titik pusat Haram asy-Syarif, Israel menunjukkan tindak kekejaman.96


Banyak anak-anak Palestina yang sedang ditahan hari ini di penjara-penjara Israel. Anak-anak yang ditahan dalam bentrokan menghadapi berbagai jenis penyiksaan, seperti digambarkan dalam laporan rinci berbagai lembaga hak azazi manusia. Akan tetapi, sebagian besar pemerintahan mengabaikan laporan ini.

Di Palestina, di mana 70% penduduk terdiri atas kalangan muda, bahkan anak-anak pun telah mengalami perpindahan, pengusiran, penahanan, pemenjaraan, dan pembantaian semenjak pendudukan tahun 1948. Mereka diperlakukan seperti warga kelas dua di tanahnya sendiri. Mereka telah belajar bertahan hidup dalam keadaan yang paling sulit. Renungkanlah fakta-fakta berikut ini: 29% dari orang yang terbunuh selama Intifadah al-Aqsa berusia di bawah 16 tahun; 60% dari yang terluka berusia di bawah 18; dan di wilayah tempat bentrokan paling sering terjadi, paling tidak lima anak terbunuh tiap hari, dan setidaknya 10 orang terluka.





Chris Hedges, yang bertindak selaku kepala biro Timur Tengah The Times selama bertahun-tahun, menyatakan bagaimana tentara Israel membunuh anak-anak Palestina tanpa ragu dalam sebuah wawancara:
Saya telah melihat anak-anak ditembak di Sarajevo. Maksud saya, penembak jitu akan menembaki anak-anak di Sarajevo. Saya telah melihat tentara kematian membunuh keluarga-keluarga di Aljazair atau El Salvador. Namun saya tak pernah melihat tentara melecehkan dan menelanjangi anak-anak seperti ini lalu membunuh mereka untuk kesenangan.” (Wawancara NPR dengan Chris Hedges)

Tentara Israel, yang menjadikan warga sipil dan anak-anak sebagai sasaran, tidak ragu menembak bahkan anak-anak yang tengah bermain di tempat bermain sekolah. Karena jam malam yang diberlakukan oleh Israel, dalam tahun itu mereka lebih sering tidak pergi ke sekolah. Ketika mereka bisa bersekolah, mereka menjadi sasaran serangan Israel. Salah satu serangan itu terjadi pada 15 Maret 2001. Sewaktu murid-murid Sekolah Dasar Ibrahimi di al-Khalil tengah bermain selama jam istirahat, tentara Israel menembaki mereka. Kejadian ini, ketika enam anak-anak terluka parah, bukan contoh yang pertama maupun terakhir tentang kekejaman semacam itu.97

Dalam The Palestine Chronicle, wartawan-penulis Ruth Anderson menggambarkan beberapa kejadian tak berperikemanusiaan dalam Intifadah al-Aqsa:

Tak ada yang menyebutkan seorang lelaki muda yang baru menikah yang pergi berdemonstrasi hanya untuk menjadi martir, meninggalkan pengantin wanitanya menjadi janda. Tak ada yang menyebutkan pemuda Palestina yang kepalanya diremukkan oleh orang Israel dan tangannya dipatahkan sebelum ia secara brutal dijagal. Tak ada yang menyebutkan seorang anak kecil berusia 8 tahun yang tertembak mati oleh tentara Israel. Tak ada yang mengatakan bagaimana para pemukim Yahudi, yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata dan disokong oleh pemerintah Barak, menyerang desa-desa Palestina dan mencabuti pohon-pohon zaitun dan membunuh orang-orang sipil Palestina. Tak ada yang menyebutkan bayi-bayi Palestina yang meninggal ketika rumah mereka dibom dengan serangan udara atau orang yang dihujani oleh peluru Israel ketika dipindahkan ke tempat aman. Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu kecuali orang-orang Israel dan Amerika.98

Intifadah al-Aqsa Merupakan Hasil Kerja Ariel Sharon

Untuk memahami kekerasan yang terus berlanjut di luar kendali pada bulan April 2001 dan membawa Israel dan Palestina mandi darah, kita harus ingat bagaimana Intifadah terakhir dimulai. Orang yang ada di pusat kejadian ini adalah Ariel Sharon, yang kemudian menjadi, dan masih menjadi perdana menteri. Sharon dikenal oleh orang-orang Islam sebagai seorang politisi yang gemar menggunakan kekerasan. Seluruh dunia mengenalnya karena pembantaian yang telah ia lakukan atas orang-orang Palestina, perilakunya yang suka menghasut, dan kata-kata kasarnya. Yang terbesar dari pembantaian-pembantaian itu terjadi 20 tahun yang lalu di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla, menyusul serangan Israel pada Juni 1982 ke Libanon. Dalam pembantaian ini, sekitar 2000 orang tak berdaya dibunuh, mengalami siksaan hebat, dan dibakar hidup-hidup. Tambahan lagi, banyak mayat yang dibakar atau dipotong-potong dan tak terungkap. Nama kedua yang akan kita temui di masa ini adalah Ehud Barak, yang saat itu komandan tentara Israel dan nantinya juga menjadi perdana menteri.

PEMBANTAIAN ZIONIS JUGA MENJADIKAN ANAK-ANAK SEBAGAI SASARAN


Tentara Israel telah membunuh dengan keji anak-anak Palestina. Di bawah adalah seorang murid Palestina yang masih kecil, masih mengenakan tas punggungnya, menjadi sasaran peluru Israel.





Harian Turki CUMHURIYET, 23 Mei 2001
MEREKA MERACUNI ANAK-ANAK PALESTINA DENGAN PERMEN
Warga Palestina menyatakan bahwa coklat yang dibagi-bagi oleh pesawat Israel diberi racun.

W. REPORT, APRIL - MEI 1993

Harian Turki MILLI GAZATE,
25 Juli 2001
ANAK-ANAK PALESTINA, SASARAN TEMBAKAN

Harian Turki RADIKAL, 2 Mei 2001
KEJAHATAN MEREKA TAK TERGUGAT

Harian Turki CUMHURIYET, 21 Juli 2001
KORBAN TERAKHIR ADALAH BAYI BERUSIA TIGA BULAN

W. REPORT, JAN-FEB 1999

Menurut ideologi Zionis, tidak boleh ada unsur asing apa pun di “tanah terjanji.” Oleh karena itu tidak ada penolakan membunuh anak-anak atau bayi sekali pun dalam buaiannya. Dalam artikel Rachel Marshall “Sowing Dragonseed: Israel’s Torment of Children Under Occupation” dalam Washington Report on Middle East Affairs ia menggambarkan penyiksaan yang ditanggung oleh anak-anak Palestina.

Dunia Islam tidak akan pernah melupakan pembantaian ini atau pembantaian lain yang dilakoni oleh militer Israel selama 50 tahun terakhir. Karena alasan ini, kunjungan menghebohkan Sharon ke Mesjid al-Qqsa jauh lebih penting dibanding yang dilakukan oleh politisi Israel lainnya. Sharon dan Partai Likud-nya meneruskan kebijakan ketat tidak mau menarik diri dari Daerah Pendudukan, memperluas pemukimannya, dan menolak melakukan perundingan tentang kedudukan tetap Yerusalem. Saat ini, dunia sepakat akan satu kenyataan: Sharon melakukan kekerasan dan tidak membuang-buang kesempatan untuk menyokong atau pun melakukannya sendiri.


Pembantaian di kamp pengungsi Sabra dan Shatilla yang dilakukan di bawah arahan Sharon bukanlah yang pertama atau yang terakhir baginya. Sharon tidak berubah selama bertahun-tahun ini, dan segera setelah ia menjadi perdana menteri ia akan membersihkan yang masih tertinggal.

Kunjungan provokasi menghebohkan Ariel Sharon ke Mesjid Aqsa menyulut Intifadah jilid dua.
(Kanan) Majalah Turki - AKSIYON, 14 Oktober 2001

Berlanjutnya kekerasan terakhir dimulai ketika Sharon, di bawah kawalan 1200 orang polisi, memasuki Mesjid al-Aqsa, suatu tempat yang suci bagi Muslimin. Setiap orang, termasuk para pemimpin Israel dan rakyat Israel sepakat bahwa masuknya Sharon ke tempat suci ini, suatu perbuatan yang biasanya terlarang bagi non-Muslim, adalah sebuah provokasi yang dirancang untuk mempertegang keadaan yang sudah memanas dan memperbesar pertentangan. Ia jelas-jelas berhasil. Penentuan waktunya sama pentingnya dengan tempat itu, karena pada hari sebelumnya Ehud Barak telah mengumumkan bahwa Yerusalem mungkin dibagi dua dan dimungkinkan perundingan dengan orang-orang Palestina. Bagi Sharon, yang dengan keras mengkritik setiap jalan damai dan menolak berdebat untuk persoalan Yerusalem, semua ini adalah alasan yang dibutuhkannnya untuk membuat kunjungan menentukan.


Menyusul kunjungan Sharon, wilayah Palestina sekali lagi tercebur ke dalam kekacauan.

Akan tetapi, kita bisa berharap bahwa Sharon, yang merupakan seorang Yahudi amat taat, akan berlaku lebih berperikemanusiaan dan damai. Kebijakan Sharon cenderung menjadi satu kasus yang sejalan dengan Zionisme Revisionis, suatu gerakan yang dirancang oleh pemimpin Zionis proto-fasis Vladimir Jabotinsky. Ideologi Jabotinsky tentu bukan ideologi yang memihak agama, melainkan Darwinis Sosial, doktrin keras yang diilhami oleh Nazisme dan fasisme Mussolini. Setelah pembentukan negara Israel, warisan Jabotinsky ditemukan tersimpan baik dalam Partai Herut sayap kanan, dan sepanjang waktu partai ini berkembang menjadi corong agama. Herut berkembang menjadi Likud di dasawarsa berikutnya dan menjadi partai politik Israel yang paling berkuasa. Akan tetapi, bumbu agama yang dipakai partai ini, seperti dalam kasus lain agenda politik sayap ultrakanan, adalah menipu. Salah satu contoh nyata tentang hal ini adalah jurang pemisah yang lebar antara kerasnya Likud dengan pesan damai Taurat. “Kalian tidak boleh membunuh,” pesan Perjanjian Lama, yang dengan demikian bertentangan dengan semangat anggota partai Likud radikal untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya. Kita berharap bahwa Ariel Sharon dan orang sepertinya akan kembali ke petunjuk Yudaisme sebenarnya dan berusaha membangun sebuah bangsa yang akan menjadi “cahaya bagi-bagi bangsa-bangsa,” seperti yang diinginkan Taurat.

Apakah Penghancuran Mesjid al-Aqsa Merupakan Tujuan Sebenarnya?

Untuk memahami pentingnya Mesjid Aqsa dan Yerusalem dan sekitarnya bagi orang-orang Israel, penting artinya meninjau wilayah ini dari kaca mata Zionis. Kepercayaan Yahudi yang telah dipolitisir secara radikal menilai bahwa masa yang dimulai dengan Zionisme akan berlanjut hingga datangnya al-Masih. Namun, untuk mencapai tujuan ini, orang Yahudi radikal percaya bahwa tiga kejadian penting harus terjadi. Pertama, sebuah negara Israel merdeka harus didirikan di Tanah Suci dan penduduk Yahudinya harus meningkat. Pindahnya orang Yahudi ke Tanah Suci secara terencana telah diwujudkan oleh para pemimpin Zionis semenjak awal abad kedua puluh. Di samping itu, Israel menjadi sebuah bangsa dengan negara merdeka di tahun 1948. Kedua, Yerusalem dicaplok pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari, dan pada 1980, diumumkan sebagai “ibu kota abadi” Israel. Yang ketiga, dan satu-satunya syarat yang masih harus dipenuhi, adalah pembangunan kembali Kuil Sulaiman, yang dimusnahkan 19 abad yang lalu. Yang masih tersisa darinya adalah Tembok Ratapan.

Akan tetapi, hari ini ada dua tempat ibadah Islam di atas tempat ini: Mesjid Aqsa dan Qubbah as-Sakhrah. Agar orang Yahudi dapat membangun kembali kuil tersebut, kedua tempat ibadah ini harus dihancurkan. Halangan terbesar melakukannya adalah umat Islam dunia, khususnya Palestina. Sepanjang mereka masih ada, orang-orang Israel tidak dapat menghancurkan kedua tempat ini. Oleh karena itu alasan sebenarnya bentrokan yang akhir-akhir ini menjadikan jalanan berdarah lagi bisa ditemukan dalam impian Zionis ini.

Seperti telah kita tekankan sebelumnya, bagaimanapun Yerusalem sama pentingnya untuk Muslimin maupun umat Kristiani. Karena alasan ini, kota ini, yang suci bagi Yahudi, Kristen, maupun Islam, tidak dapat sepenuhnya diberikan ke tangan Zionis. Satu-satunya pemecahan masalah yang kelihatannya sudah macet ini adalah menemukan suatu cara agar warga Yahudi, Kristen, maupun Islam dapat hidup bersama dalam damai dan aman. Sepanjang sejarah, hanya pemerintahan Islami yang berhasil melakukannya, sehingga hanya orang Islam yang akan mampu melakukannya di masa depan. Israel, dengan sikapnya yang menghina orang Islam maupun Kristen, hanya bisa membawa teror dan ketidaktertiban pada Yerusalem dan sekitarnya.

Demikian pula, semua perundingan antara pejabat Israel dan Palestina tidak berhasil dilakukan dalam persoalan Yerusalem. Semenjak Israel didirikan di tahun 1948, berbagai pemecahan telah diusulkan untuk Yerusalem: Menyatakan kota Yerusalem yang netral dan bebas, kedaulatan bersama Israel dan Yordania, sebuah pemerintahan yang terdiri atas perwakilan semua agama, memberikan hak tanah pada warga Palestina dan udara serta hasil bumi untuk Israel, dan banyak usulan serupa itu. Namun, Israel menolak semuanya dan akhirnya merebut Yerusalem dengan kekuatan dan mengumumkannya sebagai “ibu kota abadi” Israel. Sepanjang Israel menolak menghapus kebijakan kekerasannya yang telah berkepanjangan, menarik dirinya dari Daerah Pendudukan, atau berunding dengan rakyat Palestina, kedudukan Yerusalem di masa depan dan semua masalah terkait lainnya tidak dapat dipecahkan.

Impian terbesar Zionis adalah menghancurkan Mesjid Aqsa dan membangun kembali Kuil Sulaiman, yang cuma punya satu-satunya dinding yang tersisa.
Gambar sebelah kanan memperlihatkan bentuk istana Sulaiman.


Selama berabad-abad pemerintahan Kesultanan Ottoman, pemeluk ketiga agama hidup bersama dalam damai di Palestina. Masih dimungkinkan mencapai perdamaian seperti itu sekarang.

Serangan atas Mesjid Aqsa

Seperti dilaporkan di atas, tempat Mesjid Aqsa mempunyai derajat kepentingan khusus bagi semua Yahudi, tapi khususnya bagi Zionis. Karena alasan ini, para Zionis bertempur demi Yerusalem yang murni dan berusaha “memurnikannya” dari unsur Kristen dan Muslim. Menurut banyak Yahudi fanatik, Mesjid Aqsa seharusnya dihancurkan sama sekali. Meski kelihatannya semua Zionis sepakat dengan pandangan ini, beberapa di antaranya menyandarkan diri pada alasan politis, dan lainnya menggunakan alasan keagamaan. Apa pun alasannya, ada satu kenyataan yang tak terhindarkan: Zionis menganggap bahwa keberadaan Mesjid Aqsa adalah hambatan besar bagi visi masa depan mereka.

Serangan yang dilakukan oleh Yahudi radikal mengakibatkan hak milik kedua belah pihak rusak dan kematian. Gambar di atas adalah upaya pemugaran yang dilakukan setelah pembakaran sebagian Mesjid Aqsa oleh Zionis pada tahun 1967.

Dengan kenyataan ini, belum lama ini para Zionis radikal telah melakukan banyak upaya untuk menghancurkan Mesjid Aqsa. Menurut fakta yang ada, beberapa kelompok sepenuhnya sukarela menjalankan misi ini. Semenjak 1967, kelompok-kelompok ini telah menyerang Mesjid Aqsa lebih dari 100 kali, dan dalam melakukan penyerangan itu, telah membunuh banyak orang Islam selama ibadah sholat mereka.

Serangan pertama dilakukan oleh Rabbi Shlomo Goren, pendeta pada Angakatan Bersenjata Israel, pada bulan Agustus 1967. Goren, yang kemudian menjadi kepala rabbi Israel, memasuki tempat suci Islam itu dengan 50 pria bersenjata di bawah pengawasannya. Pada 21 Agustus 1969, Zionis melancarkan tembakan langsung ke mesjid tersebut, merusakkan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu dan gading. PBB hanya merasa perlu mengutuk kejadian itu, sebuah serangan langsung atas tempat ibadah Islam.
Harian Turki YENI SAFAK, 10 Juni 2001
MESJID AQSA AKAN ROBOH
Penggalian Israel di bawah Mesjid Aqsa berlangsung cepat.

Harian Turki MILLI GAZETE, 15 Mei 2001
MESJID AQSA DALAM BAHAYA


Menurut ideologi Zionis, lokasi Mesjid Aqsa mempunyai arti penting. Banyak Yahudi fanatik percaya bahwa mesjid ini harus dihancurkan sama sekali. Penggerogotan yang dilakukan di fondasinya dirancang untuk menyebabkan keruntuhan “alami” mesjid ini.

Pada 3 Maret 1971, pengikut pemimpin radikal Gershon Solomon juga menjadikan Haram asy-Syarif sebagai sasaran. Meskipun mereka mundur setelah kontak senjata dengan tentara keamanan Palestina, mereka tidak kapok dan melancarkan lagi serangan serupa 3 hari berikutnya. Pertempuran pun pecah dan dilakukan dengan kejam oleh satuan tentara Israel. Kemudian, pada 1980, sekitar 300 anggota kelompok teroris radikal Gush Emunim menggunakan senjata berat dan menyerang mesjid. Dua tahun berikutnya, seorang Israel yang membawa paspor Amerika bergerak ke mesjid dengan senapan serbu M-16 dan menembakkannya pada orang Islam yang tengah sholat di sana. Setelah kejadian tragis ini, di mana dua orang Palestina tewas dan banyak lainnya terluka, tak seorang pun mempertanyakan bagaimana seorang lelaki bersenjata bisa menembus “barikade” yang didirikan di sekitar mesjid itu oleh para tentara Israel. Si penyerang diadili dan ditahan sebentar, ia berkoar-koar bahwa ia telah “menyelesaikan tugasnya.” Pada tahun yang sama seorang murid dari pemimpin teroris keji rabbi Meir Kahane menyerang mesjid ini dengan dinamit.
BARIKADE ISRAEL DI DEPAN MESJID AQSA

Wednesday, December 24, 2008

Perang Hunain

Pembukaan kota Makkah berlaku dalam satu masa yang terlalu singkat. Selepas satu pukulan mengejut, membingungkan seluruh bangsa Arab dan menjadikan seluruh qabilah yang berhampiran dengannya terkejut, mereka tidak berdaya untuk menghalanginya, oleh yang demikian mereka tidak ada jalan selairi dari menerima sahaja hakikat yang berlaku, terkecuali beberapa qabilah yang gagah, ganas dan bongkak, terutamanya seperti suku Hawazin dan Thaqif, kemudian turut membuat sikap yang sama ialah qabilah Nasr, Jasyam, Saad bin Bakar dan beberapa individu dari Banu Hilal. Kesemua mereka ini dari kelompok Qais Ailan, qabilah-qabilah ini terasa berat untuk menerima kemenangan Islam. Oleh yang demikian maka seluruh mereka telah bersekutu dengan Malik bin Auf al-Nasri dan membuat keputusan untuk bergerak mara memerangi kaum muslimin.

PERGERAKAN MUSUH DAN PERSINGGAHAN DI AUTAS

Sebaik sahaja Malik bin Auf selaku turus agung pemimpin pergerakan musuh membuat keputusan untuk bergerak memerangi kaum muslimin, maka di antara keputusannya ialah membawa bersama mereka harta-harta, kaum wanita dan anak-anak mereka. Dengan itu mereka pun bergerak hingga sampai di Autas, lembah yang terletak di daerah perkampungan Hawazin berhampiran "Hunain". Namun demikian lembah Autas bukanlah lembah Hunain, lembah Hunain terletak berhampiran Zi al-Majaz. Dari lembah Autas ke Makkah adalah sepuluh batu lebih ke arah Arafah.



YANG BERPENGALAMAN DI DALAM PEPERANGAN (MEMATAHKAN) PENDAPAT PEMIMPIN

Semasa beliau turun bersama orang ramai di Autas, di antara mereka ialah Duraid bin al-Sammah, ianya seorang yang lanjut usia dan buta, berpengetahuan mengenai peperangan, berani dan berpengalaman. Tanya Duraid: "Di lembah mana kamu sekarang?" Jawab yang hadir: "Kita sekarang di Autas," maka kata beliau: "Ianya adalah sebaik tempat untuk kuda-kuda di sini", ku menelah bahawa tiada peristiwa yang mendukakan dan tanah lapang yang tidak diceroboh, tetapi apa itu? ku dengar suara-suara unta dan teriakan keldai, malah kedengaran tangisan anak-anak dan bebekan kambing" Jawab mereka: "Sebenarnya Malik bin Auf telah mengerah habis-habisan, bersama-sama askar ialah kaum wanita, harta-harta dan anak-anak mereka, kemudian beliau menjemput Malik dan bertanyakan kenapa dibawa kesemuanya ini. Jawab beliau: "Aku hendak letak semuanya ini di belakang setiap tentera supaya setiap mereka bersemangat untuk mempertahankan haknya". Jawab Duraid: "Demi Allah, ini adalah tindakan seorang .gembala kambing, bukannya seorang pemimpin bangsa. Apakah orang kalah dapat membawa balik sesuatu? Sebenarnya walaupun kesemuanya itu milik kau tetapi ianya tidak memberi sebarang faedah pun kepada seorang pahlawan

selain dari pedang dan tombaknya. Seandai kau kalah bererti kau telah menempah padah buruk ke atas keluarga kau dan harta kau". Kemudian beliau bertanya kepada qabilah- qabilah lain dan pemimpin-pemimpinnya. Dan katanya lagi: "Wahai Malik, sebenarnya kau belum lagi menyediakan perisai "Huwazin" ke leher-leher kuda-kuda mereka, Ayuh letakkan mereka di dalam benteng-benteng negara mereka, dan status ketinggian bangsa mereka, kemudian berhadapanlah dengan pengikut Muhammad itu dengan kuda kamu, sekiranya kemenangan berpihak kepada kamu maka orang-orang kau akan menurut dari belakang, tapi sekiranya kau kalah maka keluarga kau dan harta kau masih selamat".

Namun Malik ketua agung itu enggan mematuh permintaan itu dengan menegaskan: "Demi Allah tidak akan ku lakukan, sebenarnya kau sudah lanjut usia, pemikiran kau pun sudah nyanyuk. Demi Allah, Hawazin mesti mengikut cakapku, atau pun aku boleh tusukkan pedang ku ini ke perut ku hingga terkeluar dari belakang ku". Sebenarnya beliau tidak suka Duraid memain sebarang peranan yang kelak akan disebut-sebut namanya. Maka jawab seluruh Hawazin: "Ya kami semua mengikut arahan mu". Sekali lagi Duraid berkata: "Inilah hari yang belum pernah lagi aku saksikan sepertinya, aku tidak mahu melepas peluang untuk melihat kesudahannya". Lantas beliau bermadah:

Kiranya ku masih belia

Di medan perang ku mara

Kancahnya ku nyala

Tentera ku terajui

Air mata ku usapi

Kini peperangan bagaikan bin-bin

Ke ruang persembelihan dituntuni



UNIT INTIPAN MUSUH

Beberapa orang risikan yang dihantar oleh Malik kini kembali kepadanya memberi laporan dalam keadaan mengeletar. Kata Malik: "Apa ceritanya?" Jawab mereka; "Kami dapati tentera serba putih di atas belakang kuda-kuda merah dan putih, kami ketakutan dan inilah hal kami".



UNIT INTIPAN RASULULLAH (S.A.W)

Rasulullah telah mendapat maklumat tentang pergerakan musuh, sebagai tindakan maka Rasulullah mengutus Abi Hadad al-Aslami menyuruh beliau menyusup masuk ke tengah-tengah musuh dan tinggal di sana untuk memperolehi maklumat lengkap mengenai mereka. Abu Hadad pun bergerak ke sana.



RASULULLAH BERGERAK MENINGGALKAN MAKKAH MENUJUKE HUNAIN

Tanggal enam (6) haribulan Syawal tahun kelapan (8)Hijrah bersamaan pada hari Sabtu, Rasulullah pun bergerak keluar dari Makkah. Hari itu genap sembilan belas hari Rasulullah memasuki Makkah, Baginda bergerak dengan kekuatan seramai dua belas ribu tentera Islam, sepuluh ribu adalah mereka yang keluar bersama-sama Baginda semasa pembukaan Makkah, selebihnya adalah penduduk Makkah, di mana kebanyakan mereka masih baru lagi menganut Islam. Rasulullah telah meminjamkan seratus pasang baju besi dengan kelengkapannya sekali, buat memikul tanggungjawab Makkah, Baginda telah meletak Utab bin Usaiyed sebagai amirnya.

Di sebelah petang seorang askar berkuda telah datang menemui Rasulullah dengan berkata: Ku telah naik ke bukit itu dan bukit ini, dan ku telah dapati qabilah Hawazin telah keluar seisi rumah mereka, wanita-wanitanya, unta-unta dan harta-hartanya. Rasulullah (s.a.w) senyu.m mendengar laporan berkenaannya sambil berkata: "Itu adalah harta rampasan kaum muslimin besok". Insya Allah, di malam itu secara sukarela Anas bin Abi Mirthad al-Ghanuwi telah menawar dirinya untuk mengawal Rasulullah (s.a.w).

Semasa di dalam perjalanan mereka ke "Hunain" tentera Islam telah melihat sepohon kayu besar menghijau dikenali sebagai "Zat Anwat". Sudah menjadi adat orang Arab untuk menyangkut peralatan senjata mereka di situ. Maka kata sesetengah tentera kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kita Zat Anwat juga seperti mereka mempunyai Zat Anwat mereka. Jawab Rasulullah (s.a.w): "Allahu Akbar, Maha Besar Allah, kamu sanggup berkata demikian. Demi Tuhan yang nyawa Muhammad di tanganNya, kata-kata kamu ini serupri dengan kata-kata kaum Musa kepadanya. Jadikanlah untuk kami Tuhan, seperti mana mereka itu mempunyai Tuhan mereka dan kata Musa: Sesungguhnya kamu ini satu kaum yang jahil, dan sebenarnya inilah ikutan, dan sebenarnya kamu akan mengikuti jalan- jalan orang yang terdahulu dari kamu ". Terdapat juga di antara mereka yang berkata setelah melihat bilangan tentera yang ramai: Di hari ini kita tidak boleh dikalahkan lagi. Kata-kata ini dianggap dan dipandang berat oleh Rasulullah.



TENTERA ISLAM DISERANG HENDAP DAN PENDIRIAN KAUM MUHAJIRIN

Tentera Islam telah sampai ke Hunain pada malam Selasa sepuluh hari terakhir bulan Syawal. Malik bin Auf telah sampai ke situ terlebih dahulu, beliau telah menyusun tenteranya di lembah Hunain, dengan meletakkan kelompok penyerang di sepanjang jalan dan pintu masuk malah di seluruh lereng-lereng bukit Hunain dan lorong-lorongnya, beliau memberi arahan supaya mereka memanah tentera Islam apabila mereka muncul di situ, kemudian menyerang serentak ke atas tentera Islam.

Di hujung malam Rasulullah menyusun tenteranya, Baginda membahagikan tenteranya kepada pasukan-pasukan dan unit-unit, di awal subuh mereka berjalan menuju ke lembah Hunain, semasa tentera Islam turun ke lembah berkenaan, tiba-tiba mereka dihujani dengan serang hendap oleh tentera Malik yang telah lama menunggu di situ, tentera Islam dihujani dengan panahan yang bertubi-tubi, serentak dengan itu unit-unit tentera musuh mengasak mereka, apa lagi tentera Islam pun berpatah balik ke belakang dalam keadaan berkecamuk dan huruhara. lanya adalah satu kekalahan yang parah, hinggakan Abu Sufian yang masih baru lagi dengan Islam pun berkata; "Kekalahan mereka ini tidak akan berhenti kecuali setelah mereka berundur hingga sampai Laut (yakni Laut Merah). Dalam keadaan kelam Kabul Jibillah atau Kildah bin al-Junaid meneriak dengan katanya: "Hari ini sihir sudah tidak menjadi lagi". Rasulullah (s.a.w) mengelak sebelah kanan sambil melaung: "Wahai kalian ayuh ke sini, aku adalah Rasulullah, aku Muhammad Ibni Abdullah". Yang kekal bersama Baginda dalam keadaan yang gawat ini hanya beberapa orang dari kaum Muhajirin dan keluarga Baginda. Di dalam situasi ini terserlah keberanian Rasulullah (s.a.w)yang tiada bandingannya. Rasulullah tampil ke hadapan kaum kafirin dengan memecut keldainya sambil melaung:

Aku adalah nabi sebenar tiada mendusta

Akulah putera Abdul al-Muttalib

Di masa itu Abu Sufian bin al-Harith terus memegang tali keldainya dan al-Abbaspun dengan tunggangannya kedua-dua mereka membantu Rasulullah (s.a.w) supaya keldai tidak memecut laju. Kemudian Rasulullah (s.a.w) turun dengan tangan memohon kepada Allah dengan katanya: Ya Allah Ya TVihanku turunkanlah pertolongan Mu itu.



TENTERA ISLAM BERSATU SEMULA DAN MENERUSKAN PEPERANGAN

Rasulullah mengarah bapa saudaranya al-Abbas yang bersuara lantang untuk melaung kepada semua para sahabat. Kata al-Abbas: Aku melaung sehabis lantang suaraku: "Mana dia para sahabat setia?" Kata al-Abbas seterusnya: Demi Allah, semasa mereka mendengar laungan itu segera mereka berpatah balik bagaikan kembalinya seekor lembu ke hadapan anak kesayangannya. Jawab mereka semua: "Ya Rasulullah, Ya Rasulullah ada orang cuba hendak berpatah balik kepada Rasulullah dengan untanya, sudah tidak terdaya kerana kesesakan, maka ditinggalkannya sahaja tunggangan itu, dengan mengambil pedangnya, dan perisai, terus meluru ke arah suara yang melaung mereka". Setelah terkumpul seratus orang maka mulalah mereka menghadapi tentangan musuh dan terus berperang dengan lebih serius. Setelah itu laungan khusus ditujukan kepada golongan al-Ansar, lebih khusus lagi kepada golongan Banu al-Harith bin al-Khazraj, dengan itu kelompck-kelompok Islam mula bercantum semula satu demi satu hingga pulih dan kembali keadaannya seperti sebelum berlakurya peperangan, dan kini kedua-dua belah pihak saling asak m.sngasak pihak lawannya. Apabila Rasulullah melihat ke arah medan pertempuran, didapati begitu sengit dan setiap pihak bergelut, justeru itu Baginda bersabda: "Kini peperangan memuncak". Maka Baginda mengambil segenggam pasir dan melontarnya ke arah musuh sambil bersabda: "Buta mata kalian". Dengan izin Allah setiap mata musuh terkena pasir lontaran Rasulullah menyebabkan daya saingan mereka luntur dan keadaan mereka kucar kacir.



KEKUATAN MUSUH BERPECAH DIIKUTI DENGAN KEKALAHAN TERUK

Tidak berapa lama selepas Rasul mencampak pasir ke muka musuh, ketaralah kekalahan mereka, dari Thaqif sahaja tujuh puluh (70) orang terbunuh, dengan itu kaum muslimin segera mengondol harta dan peralatan senjata musuh termasuk kaum wanita menjadi tawanan. Perkembangan akhir ini telah pun Allah (s.w.t) menyebut di dalam firmanNya:

" Dan ingatlah peperangan Hunain iaitu kamu menjadi bongkak kerana banyaknya jumlah kamu.maka jumlah yang banyak tidak memberi faedah kepada kamu sedikit pun dan bumi yang luas terasa sempit olehmu kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentera yang kdmu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir dan demikian penbalasan kepada orang-orang kafir ".

(al-Taubah: 25 - 26)

GERAKAN MEMBURU

Sebaik sahaja musuh merasai kekalahan mereka, maka sebahagian mereka segera melarikan diri ke Taif, sekumpulan yang lain lari ke Nakhlah, yang satu lagi ke Autas. Rasulullah segera menghantar satu unit pemburu dipimpin oleh Abu Amir al-Asya'ari, di sana berlaku satu pertempuran kecil di antara kem Islam dan kem musyrikin, berakhir dengan kekalahan puak musyrikin. dalam pertempuran ini Abu Amir al-Asya'ari jatuh syahid. Sekumpulan yang lain memburu kelompok musyrikin yaiig lari ke Nakhlah dan sempat mereka menghancurkan kelompok berkenaan. Bersama mereka Duraid bin al- Sammah, juga dibunuh oleh Rabiah bin Rafi'e. Manakala kelompok yang lari ke Taif, Rasulullah sendiri yang bertindak memburunya dan darinya terkumpul rampasan-rampasan perang yang banyak.



RAMPASAN-RAMPASAN

Rampasan yang dipungut oleh kaum muslimin terdiri dari: Enam ribu (6,000) orang tawanan, dua puluh empat ribu (24,000) ekor unta, lebih empat puluh ribu (40,000) ekor biri-biri dan empat ribu (4,000) awqiyah emas. Rasulullah menyuruh dihimpunkan kesemuanya itu, dan ditempatkan di "al-Ja'ranah", dengan melantik Mas'ud bin Amru al-Ghaffari sebagai penjaganya, tanpa membahagikannya, hinggalah selesai gerakan ghuzwah ke atas "al-Ta'if". Di antara orang yang menjadi tawanan perang ialah al- Syaima' binti al-Harith al-Saadiah saudara sepenyusuan nabi, semasa beliau di bawa ke hadapan Rasulullah serta memperkenalkan dirinya, lalu Rasulullah pun membebaskannya setelah memastikannya dengan suatu tanda yang Baginda mengecaminya. Rasulullah memuliakan beliau malah Rasulullah menghamparkan kainnya untuk beliau dan dipersilakan beliau duduk di situ. Akhirnya Rasulullah menganugerahkan kemerdekaannya dan memulangkannya ke pangkuan keluarganya

Wednesday, November 26, 2008

Suasana Sekitar Majlis Perkahwinan




WALIMAHTULL URRUS,SAUDARA AZRAANI DENGAN NIK MURSHIDAH


Alhamdulilah dengan keizinan dan keredaan Allah SWT majlis kenduri saudara Azraani dapat dijalankan dengan meriah.Majlis diadakan pada 20 November 2008.Kehadiran para tetamu dianggarkan sekitar dua ribu orang.Majlis kenduri ini bermula dari malam hari sebelum kenduri lagi dengan mengadakan majlis marhaban.
Disebalik tabir majlis kenduri saudara azaani ini tersimpul pelbagai faedah yang menarik yang sesuai untuk didengar.Kami sempat menemuramah saudara azraani pada malam hari sebelum majlis kenduri kahwinnya.Wajah saudara azraani yang tersenyum lebar dengan riak muka yang manis jelas mengambarkan kegembiraan hatinya,beliau hanya mengatakan betapa bahagianya bercinta selepas kahwin.Penyataan ini membuatkan kami tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perjalanan kisah pertemuan mereka. Beliau berkata, ana hanya tertarik dengan zaujah ana hanya dengan melihat gambar yang diambil oleh kawan ana semasa satu program diadakan di Kelantan.Perasaan yang sukar digambarkan itu menyebabkan beliau mahu mengenali zaujahnya dengan lebih rapat lagi.Akhirnya mereka pun bertunang dengan restu kedua ibubapa mereka.
Sepanjang tempuh pertunangan mereka yang mengambil masa selama satu tahun jelas menguji keimanan dan kesabaran saudara azraani.Pertunangan mereka tidak seperti pertunangan orang lain,mereka tetap menjaga pergaulan mereka.Saudara azraani berkata mereka hanya berSMS seminggu sekali sahaja.kalau dah berSMS seminggu sekali berjumpa lagilah hanya beberapa kali sahaja,Lihatlah betapa mereka menjaga pergaulan mereka tidak seperti orang melayu masa sekarang yang dengan bertunang sahaja telah keluar berdating kesana kemari.Perlu dingatkan bertunang tidak menghalalkan persentuhan antara mereka dan batas pergaulan perlu dijaga.Apatah lagi budak-budak muda masa sekarang yang tanpa ikatan bertunang sekalipun telah berani naik moto bersama menonggek sana sini.Just diikatkan dengan hubungan yang dikatakan mereka girlfriend dan boyfriend.Ya Allah ampunilah umat islam yang berbangsa melayu ini sesunguhnya melayu mudah melupa siapa pencipta mereka.

Sunday, November 9, 2008

Bersegera dan Jangan Menunda



PDF Print E-mail




Ibnu 'Atha berkata, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!".

Hari itu adalah hari yang teramat bahagia bagi Handzalah bin Abu Amir. Betapa tidak, ia baru saja melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita yang dicintainya. Saat sedang melaksanakan "kewajibannya" dengan isteri, terdengar olehnya seruan agar kaum Muslimin bersiap sedia untuk menghadapi kaum kafir Quraisy di Bukit Uhud.

Mendengar seruan itu, Handzalah melompat dari medan peraduannya bersama isteri dan segera bergabung dengan tentera Islam lainnya. Dalam pertempuran di Bukit Uhud tersebut, Hanzhalah bertarung dengan sangat berani. Ia bertemu dengan Abu Shufyan bin Harb. Ketika itu, Hanzhalah dalam posisi di atas dan hendak membunuhnya. Tapi mendadak diketahui oleh Syaddad bin Aus dan ia lebih dahulu membunuhnya. Handzalah pun syahid di jalan Allah.

Segera setelah peperangan tamat, Rasulullah SAW menemukan jenazah Handzalah. Beliau bersabda, "Sesunguhnya sahabat kalian (Handzalah) dimandikan oleh malaikat, maka tanyakanlah bagaimana kabar keluarganya". Para sahabat kemudian menemui istri Handzalah. Istrinya berkata, "Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambutnya, padahal ia dalam keadaan junub". Mendengar itu, Rasulullah SAW pun berkomentar, "Itulah yang menyebabkan para malaikat memandikan jenazahnya".

Bersegera dan jangan menunda

Entahlah, apakah kita sanggup atau tidak meneladani apa yang dilakukan Handzalah? Terlepas dari sanggup atau tidak, ada satu karakter yang telah ditunjukkan Handzalah, iaitu tidak menunda-nunda. Handzalah tidaklah sendirian. Banyak sahabat dan orang saleh yang sangat haus untuk berbuat kebaikan. Mereka tidak rela bila sedetikpun waktunya berlalu sia-sia. Mereka akan bersegera melakukan sebuah amal, bila amal tersebut telah tiba waktunya. Termasuk meninggalkan amal utama menuju amal yang lebih utama.

Dikisahkan Hasan Al-Banna, misalnya. Suatu ketika salah seorang anaknya sakit keras. Dia dan istrinya benar-benar mengkhawatirkan keadaan sang anak yang makin memburuk. Pada saat yang sama, datanglah panggilan untuk melayani (berkhidmat) pada umat. Di antara dua pilihan tersebut, Al-Banna memilih yang panggilan kedua. Ia pun meninggalkan anaknya yang tergolek lemah di tempat tidur. Saat itu istrinya berkata, "Sanggupkah engkau meninggalkan anakmu yang sedang sakit keras?" Al-Banna menjawab, "Apakah dia akan sembuh dengan adanya aku. Padahal penyakit umat di luar sana jauh lebih penting untuk aku tangani!".

Apa yang menyebabkan Handzalah, Hasan Al-Banna, dan orang-orang saleh lainnya begitu bersemangat dalam kebaikan? Sebabnya, mereka berhasil mengatasi rasa takut. Ketakutan adalah salah satu penyebab orang menunda pekerjaan. Sebenarnya, ada tiga pilihan saat kita dihadapkan pada rasa takut ini, iaitu: menghindarinya, mengharapkannya cepat berlalu, dan melawan rasa takut tersebut dengan segera melakukannya. Orang akan selalu menunda-nunda bila pilihannya jatuh pada nomor satu dan dua. Ia akan mencari seribu satu alasan untuk menghindar dari tugas yang semestinya harus ia lakukan. Pilihan ketiga adalah penyelesaian terbaik dan itulah yang dilakukan Handzalah dan Al-Banna.

Selain itu, mereka pun miliki energi luar biasa untuk berbuat. Energi tersebut lahir dari sebuah impian besar, iaitu keinginan berjumpa dengan Allah SWT. Impian, cita-cita, atau keinginan yang sangat besar adalah penangkal paling efektif untuk menghancurkan rasa takut dan penundaan. Tampaknya, mereka sangat terinspirasi janji dari Allah SWT.

* (#

“Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133).

Yang ketiga, mereka tidak dilalaikan dengan angan-angan kosong. Angan-angan kosong di sini adalah harapan akan hadirnya hari esok. Tampaknya mereka sedar bahwa kesempatan untuk syahid sulit untuk berulang kembali. Walaupun kesempatan itu datang, ia tidak tahu apakah masih hidup atau sudah mati; sedang sihat atau sakit. Benar bila Islam melarang menunda tugas saat ini ke "sebentar lagi", juga amal ini ke "esok". Sebab, kita tidak tahu apa yang ada di balik "sebentar", "esok", atau "nanti" itu.

Ada hikmah menarik dari Imam Ali RA. Ia melukiskan bahwa "saat" itu hanya ada tiga, iaitu (yang) berlalu dan tak dapat diharapkan lagi, maka jadikanlah ia sebagai pelajaran; (yang) kini pasti adanya, jadikanlah ia peluang; dan yang akan datang, tapi ingatlah, boleh jadi ia akan menjadi milik orang lain. Pegang yang pasti, jangan diperdaya oleh esok, dan jangan pula menghadirkan keresahan esok ke hari ini. Kerana, yang demikian itu hanya akan menambah beban diri. "Tahukah Anda bagaimana waktu mencuri usia manusia?" demikian seorang bijak bertanya dengan nada yang retorik. Ia menjawab, "Waktu mencurinya melalui hari esok yang melalaikannya tentang hari ini (dengan menunda), sampai usianya habis".

Bersegera dan tidak menunda adalah cerminan pribadi seorang Muslim. Tepatnya, cerminan dari orang yang sedar akan hakikat waktu. Waktu itu cepat sekali berlalunya. Sekali berlalu, ia tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah tergantikan. Karena itu, waktu menjadi harta termahal yang dimiliki manusia, sehingga menggunakannya dengan cara yang tepat menjadi sebuah kewajiban.

Ada tiga alasan kenapa Allah dan Rasul-Nya mewajibkan manusia untuk tidak menunda sebuah pekerjaan. Pertama, tidak ada jaminan kita bisa hidup hingga esok hari. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok (QS Luqman [31]: 34). Siapakah yang dapat menjamin kita bisa hidup hingga besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan; padahal kematian begitu dekat dengan tiap manusia. Seorang penyair berkata, "Selesaikan pekerjaanmu hari ini, jangan menunggu besok. Siapa yang akan menanggung perkaramu di esok hari?"

Kedua, dalam setiap waktu ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Tidak ada waktu yang kosong dari aktiviti. Pengabaian terhadap hak dan kewajiban tersebut akan membawa kemudharatan berlipat-lipat bagi yang melakukannya. Seorang ahli hikmah berkata bahwa kewajiban pada tiap-tiap waktu memungkinkan untuk diganti, namun hak-hak dari tiap waktu tersebut tidak mungkin diganti. Ibnu 'Atha mengungkapkan, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!"

Ketiga, baik bersegera ataupun menunda yang terus dilakukan akan menjadikan jiwa terbiasa melakukannya. Tidak akan pernah menjadi penunda "kelas berat", kecuali diawali dengan menunda hal-hal kecil dalam kiraan yang tinggi. Kebiasaan menunda akan menjadi tabiat kedua yang akan sulit ditinggalkan. Kerana itu, Allah SWT melarang hamba-Nya melalaikan waktu sedikitpun, termasuk menunda pekerjaan.

Allah SWT berfirman,


“Sesungguhnya orang Mukmin itu apabila berbuat dosa akan ada di dalam hatinya bintik hitam, seandainya ia bertaubat, maka akan hilang bintik hitamnya; dan apabila ia menambah nescaya akan bertambah (bintik hitam tersebut), sehingga akan menutup hatinya” (QS Al-Muthafiffin [83]: 14). Wallahu a'lam bish-shawab.


Tuesday, October 21, 2008

'Anugerah Datuk kepada Shah Rukh Khan memalukan negara'


PENGURNIAAN Darjah Mulia Seri Melaka (DMSM) yang membawa gelaran Datuk kepada bintang Bollywood, Shah Rukh Khan, menerima kritikan pedas daripada Datuk Seri Abdul Ghapur Salleh (BN-Kalabakan) yang menganggapnya sesuatu yang memalukan negara. Beliau berkata, rakyat tidak melihat sebarang jasa yang disumbangkan Raja Bollywood itu sehingga layak dikurniakan anugerah sempena sambutan Hari Jadi ke-70 Yang di-Pertua Negeri, Tun Mohd Khalil Yaakob, seperti yang diumumkan baru-baru ini. "Apa jasa yang sudah Shah Rukh Khan sumbangkan kepada negara sehingga beliau layak dianugerahkan gelaran Datuk. Ini sangat memalukan.
"Saya syorkan anugerah bintang ditarik balik kerana tiada jasa yang beliau sumbangkan. Ramai lagi anak Melaka yang berjasa atau seniman tanah air yang layak diberikan anugerah ini. "Kalau tidak ditarik balik saya bimbang ada orang yang tidak akan menang sebagai Timbalan Presiden," katanya yang merujuk kepada Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Mohd Ali Rustam yang dicalonkan untuk jawatan berkenaan, ketika perbahasan Rang Undang-Undang Perbekalan Tambahan 2009. Shah Rukh Khan yang terkenal dengan filem Kuch Kuch Hota Hai, dijangka ke Melaka bulan depan untuk menerima gelaran itu. Sebelum ini, Setiausaha Politik Ketua Menteri Melaka, Saadon Basirun, berkata penganugerahan itu adalah bagi menghargai sumbangan Shah Rukh Khan terhadap perkem-bangan pesat industri filem Hindustan di rantau ini, termasuk Malaysia.

Friday, October 17, 2008

Tafsir An-Nisa


Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (An-Nisa’: 58).
Keterangan dan kandungan ayat:
Amanat yaitu; segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia dan diperintahkan untuk dikerjakan. Dalam ayat ini Allah memerintahkan hambanya untuk menyampaikan amanat secara sempurna, utuh tanpa mengulur-ulur/menunda-nundanya kepada yang berhak. Amanat itu mencakup perwalian, harta benda, rahasia, dan perintah yang hanya diketahui oleh Allah.
2. Firman Allah: “Dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan hukum dengan adil”, mencakup menetapkan hukum dalam masalah pertumpahan darah, harta, dan kehormatan. Baik sedikit atau banyak, terhadap karib kerabat atau orang lain (yang tidak memiliki hubungan kerabat), orang yang fasik atau orang yang saleh dan musuh sekalipun. Allah berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al Maidah:8).
Maksud “Adil” di sini adalah, memberikan sanksi-sanksi dan hukuman sesuai dengan yang telah disyariatkan oleh Allah melalui rasul-Nya.
3. “Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, Yang demikian ini adalah pujian Allah atas perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, yang mencakup maslahat dunia dan akhirat menghindarkan mereka dari berbagai macam mudarat kepadanya. Karena (perintah dan larangan tersebut) berasal dari yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hambanya yang tidak mereka ketahui.

Thursday, October 16, 2008

DI SISI MUJAHID ADA MUJAHIDAH





Terkadang hati ini tertanya-tanya….kenapa masih perlu menunggu? Sedangkan aku tahu, aku telahpun menemui mujahidku… diri ini terlalu yakin, dialah jawapan doa hari2 ku… “Ya Allah, kurniakanlah kepada ku hamba Mu yg soleh sebagai suami, agar dia dapat membimbingku menuju syurgaMu…”



Resah gelisah hati menunggu…mengira setiap detik dan waktu, impian itu menjadi kenyataan… bersama-sama si mujahid… menemaninya dalam perjuangannya… eh?? perjuangan?? Ya Allah…aku lupa lg… seorang mujahid, tujuannya satu… berjuang malah berkorban utk menegakkan Deen-ul-haqq… walau telah bergelar suami, perjuangan tetap berjalan.. pengorbanan tetap diteruskan!! Malah itu juga seharusnya menjadi perjuangan aku juga bukan?..
“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya….” [33:4]



Hati si mujahid telahpun sarat dgn cinta kepada Rabbnya.. yg menjadi pendorong kepada perjuangannya.. (begitulah haprapnya) .. mana mungkin pada masa yg sama, si mujahid menyintai ku (setelah bergelar isteri) dengan sepenuh hatinya? Walaupun setelah ku curahkan selautan sayang.. ku legakn penat lelah perjuangannya dengan gurauan manja.. ku cukupkan makan pakainya….si mujahid masih tidak boleh leka dr perjuangannya!! Ya Allah, aku kah yang akan menjadi fitnah yang melekakannya dari perjuangannya yg dulu cukup ikhlas hanya untuk Rabbnya???…..



“Katakanlah, “ Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, ISTERI-ISTERImu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”…..[9:24]
Oh tidak!! Aku tidak mahu menjadi penyebab si mujahid leka akan tanggungjawabnya yang lebih besar…tanggungjawabnya utk Ad-Deen ini…. Tapi sanggupkah??…sanggupkah diri ini hanya memperoleh secebis hati si mujahid yg telah sarat dgn cintanya kepada yg lebih berhak?? Sanggupkah diri ini sering ditinggalkn tatkala si mujahid perlu ke medan juang?? Malah sanggupkah diri ini melepaskn si mujahid pergi sedangkn hati ini tahu si mujahid yg teramat di cintai mungkin akan keguguran di medan juang??..sanggupkah???

Ya Allah… Layakkah diri ini menginginkan suami semulia Rasulullah..sedangkn diri ini tidak sehebat Khadijah mahupun Aisyah… Lihat sahaja isteri-isteri Nabi… Ummul-muslimin…Ummi-ummi kita…lihat saja perjuangan dan pengorbanan mereka… lihat sahaja ketabahan hati mereka… sehinggakn setelah diberi pilihan antara cinta duniawi dan cinta mereka terhadap Allah dan Rasul…Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut’ah dan ku ceraikan kamu dengan cara yang baik“ [33:28]
Allah dan Rasul tetap menjadi pilihan! Mampukah aku menjadi seperti mereka?? Mampukah aku membuat pilihan yang sama kelak, setelah mabuk di lautan cinta kehidupan berumah tangga?? Mampukah aku mengingatkn si mujahid tatkala dia terlupa dan terleka dari cintanya dan tugasnya demi Rabbnya?? Atau aku juga akan turut hanyut malah lebih melemaskn lagi si mujahid dengan cinta duniawi??

Ah sudah wahai hati, hentikan saja angan-anganmu, hentikan saja kiraan waktumu…. Masanya belum tiba utuk kau memiliki si mujahid, kerana kau sendiri belum lagi menjadi seorang mujahidah yang sebenar!! Hati, janganlah kau sibuk mengejar cinta mujahid, tetapi kejarlah cinta Penciptanya…Hati, janganlah kau lekakan aku dengan angan-anganmu…sedangkan masih terlalu banyak ilmu yg perlu ku raih…. Hati, sedarkah engkau ujian itu sunnah perjuangan??…tapi kau masih terlau rapuh utk menghadapinya…kau perlu tabah!! dan aku tahu, kau tak mampu utk menjadi sebegitu tabah hanya dalam sehari dua… Duhai hati… bersabarlah… perjalanan kita masih jauh…. bersabarlah… teruskan doamu… hari itu akan tiba jua…. pabila engkau telah bersedia menghadapinya kelak…. bersabarlah…..

10,000 MATI SETAHUN AKIBAT MEROKOK


Di Malaysia, merokok menyumbang kepada lebih 10,000 kematian setahun; 30 peratus daripadanya disebabkan 10 jenis kanser, iaitu paru-paru, mulut, esofagus, tekak, pankreas, pundi kencing, buah pinggang, serviks, kolon dan perut, 50 peratus kematian berpunca daripada sakit jantung dan strok dengan pecahan 25 peratus masing-masing. HTML clipboard
Menurut Dr Sallehudin, lebih 100,000 perokok dimasukkan ke hospital kerajaan di seluruh negara akibat sakit jantung, kanser dan penyakit sekatan pulmonari kronik (COPD) dan lebih penting, negara mengalami kerugian kira-kira RM20 bilion setahun bagi menanggung kos rawatan dan kehilangan produktiviti.
Kesan Asap Rokok Kepada Si Perokok Dan Orang Disekeliling
Si perokok bukan sahaja perlu bertanggungjawab pada diri sendiri tetapi turut bertanggung jawab pada orang disekeliling akibat daripada bahaya asap rokok. Asap rokok yang dihidu oleh perokok atau mereka yang berada di sekelilingnya, akan memasuki rongga mulut dan hidung melalui kerongkong ke paru-paru. Kandungan asap rokok akan menyebabkan kerosakan tisu di sepanjang perjalanan di ruang ini. Ia boleh menyebabkan pelbagai penyakit di mulut, kerongkong, paru-paru dan barah. Asap akan melalui saluran pernafasan ke dalam paru-paru dan merosakkan saluran bronkus, menyebabkan bronkitis, penyakit di bahagian paru paru. Ia juga akan merosakkan pundi udara dalam paru-paru (alveoli) dan menyebabkan penyakit emfisima.

Asap rokok yang dihidu juga akan melalui saluran penghadaman dan pencernaan, yang boleh menyebabkan pelbagai penyakit di bahagian esofagus, perut dan pankreas.

Racun dalam asap rokok yang larut air akan memasuki sistem saluran darah dan dibawa ke seluruh badan. Bahan nikotin, bukan saja memberi sifat ketagihan, malah menyebabkan saluran darah arteri menjadi sempit. Ia juga merosakkan dinding arteri dan akan memudaratkan organ berkaitan.

Kesan ini, dalam jangka panjang, akan menyebabkan simptom kebas pada kaki, jari, migrain, sakit kepala, pedih ulu hati, kekejangan otot kaki, serangan penyakit jantung dan sebagainya.

Racun rokok akhirnya disaring dalam buah pinggang dan dihapuskan dari badan melalui air kencing. Dalam proses ini pula, berlaku satu lagi keracunan hasil penguraian kimia asap rokok yang turut merosakkan buah pinggang. Racun dalam air kencing juga menyebabkan kerosakan pundi kencing.

Racun akibat merokok juga mempunyai kesan tindak balas terhadap ubat-ubatan. Secara umum diketahui merokok boleh menjejaskan fungsi beberapa kumpulan enzim di hati dan ada kalanya ia boleh memperhebatkan kesan sampingan sesuatu ubat itu.
Kesan Asap Rokok Terhadap Isteri Perokok Adalah :
- Melahirkan bayi yang kurang berat badan
- Melahirkan bayi yang tidak cukup bulan
- Lebih terdedah kepada kanser
- Mengurangkan kesuburan dan putus haid awal

Kesan Asap Rokok Terhadap Anak Perokok :
- Lebih mudah mendapat lelah
- Mendapat jangkitan paru-paru
- Pertumbuhan paru-paru kanak-kanak terganggu
- Mudah menjadi perokok apabila dewasa kelak

Sunday, October 12, 2008

SAATNYA UNTUK MENIKAH



"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi." (HR Tarmidzi dan Ahmad)
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
Saya tidak tahu apakah ini merupakan HUKUM SEJARAH YANG DIGARISKAN ALLAH.Ketika orang MEMPERSULIT APA YANG DIMUDAHKAN ALLAH, MEREKA AKHIRNYA BENAR-BENAR MENDAPATI KEADAAN YANG SULIT DAN NYARIS TAK MENEMUKAN JALAN KELUARNYA. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada ALASAN SYAR'I dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius. Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami SINDROM KEMAPANAN (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti HUKUM KATEGORI, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula KRITERIA TENTANG JODOH, ketika MENETAPKAN KRITERIA YANG TERLALU BANYAK MAKA AKHIRNYA BAHKAN TIDAK ADA YANG SESUAI DENGAN KEINGINAN KITA. Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalahnya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu KEKHAWATIRAN KETIDAKMAMPUAN MENCARI NAFKAH sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan KHAWATIR KEMATIAN lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan. WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN, MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN. Padahal Rasululloh berpesan: ?Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH TIBA WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA." (HR Ahmad) Hadis ini menunjukan agar TIDAK BOLEH MEMPERSULIT PERNIKAHAN BAIK LANGSUNG MAUPUN TAK LANGSUNG. Secara LANGSUNG adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang TIDAK SECARA LANGSUNG. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan Sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri. Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir akan KERUHNYA NIAT dan BERGESERNYA TUJUAN. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Naudzubillah Penyebab lain adalah LEMAHNYA KEYAKINAN KITA BAHWA ALLAH PASTI AKAN MEMBERI REZEKI atau bisa jadi CEERMINAN DARI SIFAT TIDAK QONA'AH (MENCUKUPKAN DIRI DENGAN YANG ADA). PILIHLAH YANG BERTAKWA Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata: "KAWINKANLAH DIA DENGAN ORANG YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH. SEBAB, JIKA LAKI-LAKI MENCINTAINYA, IA MEMULIAKANNYA, DAN JIKA IA TIDAK MENYENANGINYA, IA TIDAK AKAN BERBUAT ZALIM KEPADANYA." Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk MEMBENAHI PIKIRAN. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa, cinta yang semula tak ada meski cuma benihnya, dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa. Wallahu alam bi showwab. REFERENCE: Seminar Keluarga Sakinah, 16 Ogos 2002 (Keluarga Muslim)

Saturday, October 11, 2008

INGINKAN IA UNTUK AKU.......


Sebuah pesan masuk di ponselku, segera kuraih dan kubaca pesan itu, ternyata dari sobatku Faizal. “Ass akhi, insyaAlloh ada pertemuan Dewan Syuro dg para pengurus LDK, u/ membahas dakwah kita, antum bisa?, sekalian ada yang ingin ana diskusikan sama antum”. Sesaat kemudian aku tekan tombol reply, aku tulis

“Www. InsyaAlloh, kapan?” Lalu aku kembali menekan tombol di ponselku itu untuk mengirimkan pesan tersebut. Pesan terkirim. Ponsel itu masih kugenggam. Aku buka pintu kamar kontrakanku, semilir angin senja kota kembang langsung menyapaku. Kutarik nafasku, merasakan nikmatnya hidup di kesekian waktu yang dipercayakan Alloh untuk aku arungi. Kedua bibirku dengan lirih berucap syukur pada-Mu ya Rabb atas segala nikmat yang telah engkau anugerahkan. Sebuah kursi kayu yang bersandar disebelah tempat tidurku pun kini aku duduki. Di depannya sebuah meja kecil yang juga masih terbuat dari kayu berdiri. Ada beberapa buah buku berjilid tebal bertuliskan Tafsir Fii Zhilalil Quran masih terbuka disana. Sesaat kemudian sebuah ringtone nasyid Raihan kembali berbunyi di ponselku. “InsyaAlloh acaranya ahad pagi pukul delapan di Daarul Ihsan”.

Aku mencoba mengingat-ingat takutnya sudah ada janji yang aku buat di waktu tersebut. “InsyaAlloh ga ada”, gumamku Aku mengiyakan pada Faizal untuk ikut bergabung di acara pertemuan Dewan Syuro dan para pengurus LDK tersebut. Menjadi aktifis kampus memang mungkin sudah tidak layak lagi gelar itu aku sandang, karena alhamdulillah enam bulan yang lalu aku sudah resmi menjadi seorang sarjana, yang berarti seharusnya aku terlepas dari predikat mahasiswa dan terlepas juga dari segala rutinitas selama menjadi bagian dari kampus itu.

Namun, sebuah amanah yang cukup berat tidak bisa kutolak ketika Syuro memutuskan aku menjadi salah satu anggotanya, setelah aku menyelesaikan amanahku sebagai ketua umum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) setahun yang lalu. Dewan syuro ibaratnya menjadi lembaga legislatif yang akan membantu pelaksanaan dakwah sekaligus juga sebagai dewan penasehat para eksekutif di sebuah LDK. Apalagi jika aku teringat firman Alloh dalam Al Quran yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berangkat dan berjihad di jalan Alloh meskipun dengan rasa ringan maupun berat. (Q.S At Taubah : 41) .Ada rasa malu yang menyesak dalam dada ini ketika satu persatu maknanya aku selami. Dalam hati aku bertanya, “Bukankah ini juga salah satu jihad dijalan Alloh?”. Lembayung senja mulai nampak menyeruakkan cahayanya masuk di sela-sela pintu kamar kontrakanku. Tidak lama berselang sebuah panggilan suci menggema hampir diseluruh penjuru kota kembang. “Allahu akbar Allahu akbar ... Allahu akbar Allahu akbar ... Asyhadu anla ilaaha illallah ... Asyhadu anla ilaaha illallah ... Asyhadu anna muhammadarasulullah ... Asyhadu anna muhammadarasulullah ... Hayya ‘alashshalah Hayya ‘alashshalah ... Hayya ‘alalfalah Hayya ‘alalfalah ... Allahu akbar Allahu akbar ... Laa ilaaha illallah ...”

Aku bergegas menuju sebuah mushola yang tak jauh dari kamar kontrakanku. Sebuah kain sarung bercorak kotak warna biru lengkap dengan baju koko warna putih menjadi pilihanku untuk menghadap panggilan suci-Mu. * * * Daarul Ihsan, sebuah mesjid kampus yang ada di sebelah fakultasku dulu masih tampak sepi.

Memang aku sengaja berangkat lebih pagi dari acara pertemuan yang telah kami janjikan. Aku tersenyum, mengingat saat-saat ketika kami selalu bersama mendiskusikan jika ada masalah dakwah di kampus kami setahun yang lalu. Dari sini, di tempat ini biasa terlahir gagasan-gagasan cemerlang untuk memecahkan beberapa permasalahan ummat. Ada kalanya kami harus sampai berdebat panjang hanya dalam mencari sebuah solusi. Namun memang benar, perbedaan adalah rahmat. Dari perdebatan perbedaan pandangan biasanya kami lebih memahami dan mengerti akar permasalahan itu sebenarnya. Sinar mentari pagi menyelinap disela-sela dedaunan, bagaikan mata-mata para pribumi yang mengintip siapa yang datang dari balik tirai jendela. Aku tertegun sejenak ... Tiba-tiba ... “Assalamu’alaykum akh, bagaimana kabarnya antum?” Seorang laki-laki dengan kulit putih, rambut agak ikal dan janggut tipis di dagunya menyapaku sambil tersenyum. “Wa’alaykumsalam warahmatullaah ..., alhamdulillah”, jawabku sambil membalas senyumnya. Faizal kini berdiri disampingku. Aku masih ingat pertemuan kami pertama kali sekitar empat tahun yang lalu. Kami bertemu didepan gedung Rektorat, ketika sama-sama akan mengurus beasiswa yang kami dapatkan pada tahun pertama di kampus ini.

Tak kusangka pertemuan itu telah mengantarkan kami dalam sebuah persahabatan. Selama empat tahun menimba ilmu, menjadi bagian di kampus ini, kami tinggal di tempat yang sama. Suka duka biasa kami bagi bersama. Rasa persahabatan itu mungkin kini lebih mirip dengan sebuah ikatan kekeluargaan. Ibarat seorang kakak dan adik yang tumbuh dalam sebuah keluarga. Apapun masalah yang kami hadapi, kami biasa membicarakannya berdua. Mulai dari masalah kuliah sampai ke masalah pribadi sekalipun, termasuk jika membicarakan tentang mereka, tentang akhwat yang kami kagumi. Ya... memang berkali-kali kami harus beristighfar ketika pembicaraan mengarah ke masalah tersebut. Yang kami takutkan adalah kami terlena dengannya. Meski kamipun sadar bahwa sewajarnya seorang manusia memang selalu memiliki rasa ketertarikan jika dipertemukan dengan lawan jenis yang dikaguminya. Kerikil-kerikil kecil menemani langkah kami menghampiri Daarul Ihsan. Sesaat kemudian kami telah berada disebuah ruangan lebar berhiaskan ayat-ayat suci di dindingnya. Kurebahkan tubuhku diatas hamparan sajadah, dinginnya lantai masjid ini masih dingin sedingin ketika kami biasa berada disana seusai shalat berjamaah setahun yang lalu. Pukul delapan tepat, kami memulai acara pertemuan. Ada sekitar duapuluh orang yang hadir di sana saat itu. Lantunan ayat-ayat indah firman Illahi mengalun membuka pertemuan kami. Berharap menambah keberkahan dan meluruskan niat kami dalam pertemuan tersebut dan dalam menjalani perjalanan panjang kehidupan ini. Faizal melanjutkan acara dengan menguraikan masalah yang akan dibahas pada pertemuan tersebut. “Ikhwah, masih ingat dengan anak-anak jalanan yang biasa ada di depan kampus kita?. Ana dapat kabar seminggu yang lalu, ternyata masalah kristenisasi sekarang sudah sampai pada mereka. Ada diantara mereka yang kini telah beralih aqidah karena hasutan dan bujuk rayu mereka para misionaris”, ujar Faizal panjang lebar. “Astaghfirullah”, dalam hati ku beristighfar, ada kesedihan yang membuncah dalam dada ini. Selanjutnya kami mencoba membahas masalah tersebut, mulai dari pembahasan mengapa masalah tersebut bisa terjadi sampai kepada merumuskan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Ada beberapa keputusan yang kami sepakati saat itu, satu diantaranya kami akan mencoba untuk melakukan pendekatan secara personal kepada mereka para anak jalanan. Berikhtiar mudah-mudahan mereka bisa lebih terbuka, dan disaat mereka terbuka pada kami, kami akan mencoba untuk menyadarkan mereka kembali akan makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin dalam diri-diri mereka. Pukul sepuluh tepat pertemuan kami akhiri. Aku pamit bermaksud untuk lebih dulu meninggalkan forum. Saat itu aku bermaksud ke warnet di depan kampus untuk memeriksa beberapa e-mail yang mungkin masuk di file inbox-ku dari rekan-rekan di millist, serta memasukkan beberapa artikel yang telah aku tulis. Namun, belum genap langkahku, Faizal memanggilku. “Akh Fadhil, afwan boleh minta waktunya sebentar?” Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sebuah kursi bambu di dekat taman mesjid aku pilih sebagai tempat untuk ngobrol dengan Faizal. “Akh, jujur ana lagi bingung”, Faizal memulai bicaranya. “Bingung kenapa emangnya akh?”, tanyaku. “Seminggu yang lalu ibu bapakku menghubungi, beliau meminta ana untuk menikah dengan seseorang yang telah mereka pilihkan dikampung, padahal ana bermaksud ingin melanjutkan kuliah di Al Azhar akhir tahun ini ... ”. Faizal menarik nafasnya ... “Katanya ga usah khawatir, akhwat itu juga lulusan universitas, akhlaknya juga baik dan semasa kuliahnya ia juga termasuk mahasiswi teladan dikampusnya”, lanjut Faizal mencoba menerangkan. “Terus Farah gimana akhi?”, celotehku sambil tersenyum menggoda dia. Farah Aina Fadilah memang seoarang akhwat aktifis kampus juga yang dulu biasa kami bicarakan, dia masih satu angkatan dengan kami, hanya beda fakultas. Faizal memang sepertinya mengaguminya, bukan hanya cantik wajahnya, namun akhwat berkulit putih yang biasa memakai kacamata itu beberapa kali harus membuat kagi berdecak kagum karena aktifitas dakwahnya yang luar biasa. Biasanya jika aku goda Faizal dengan membicarakan Farah, ia selalu membalasnya dengan membicarakan Rahma, teman dekatnya Farah yang ia kira aku juga mengaguminya. Jujur memang aku kagum pada mereka berdua. Tapi, bukan ia sebenarnya yang lebih aku harapkan bisa menjadi pendampingku kelak. Seorang mahasiswi teladan berwajah ayu, berjilbab lebar, jebolan pesantren, pernah terpilih menjadi salah satu peserta MTQ Nasional, yang sangat terjaga pergaulannya yang bernama Alifa Nurul’aini telah lebih dulu mengisi relung hatiku. Aktifitasnya sebagai ketua bidang keputrian di LDK kami saat itu, kadang membuat aku iri kepadanya. Selalu ada yang lebih aku rasakan ketika aku bertemu dengannya. Ada rasa harap dalam diri, ia kelak bisa aku sunting untuk mengarungi hari-hari bersama dalam rumah tangga. Namun baik aku maupun Faizal memang hanya sebatas mengagumi mereka, mengungkapkan secara terus terang kepada mereka atas perasaan yang dirasakan bisa menjadi bumerang bagi kami. Kami bertekad satu saat nanti biarlah jika kami memang sudah siap untuk berumah tangga, kami akan datang langsung kepada orang tua mereka untuk meminangnya. Tidak saat ini, ... Aku mencoba menyarankan sebuah solusi pada Faizal, untuk kembali menyerahkan atas persoalan yang dihadapinya pada Ia sang maha segalanya. Allah SWT. Istikharah, memang selalu menjadi pilihan ketika hati ini bimbang dalam menentukan pilihan.

Begitupun saat itu, aku menyarankan Faizal untuk rajin beristikharah, memohon yang terbaik. “Atau mungkin jika antum menikah dulu lalu melanjutkan studi ke Al Azhar, akhi?”, tanyaku. “Memang itu juga sempat terpikir oleh ana, namun ana berharap semoga ada yang terbaik untuk masalah ini”, jawab Faizal. “InsyaAlloh, Alloh akan selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya akh”, lanjutku sambil tersenyum, menepuk pundak Faizal. Ia membalasnya sambil berucap, “Jazakalloh akhi, antum memang saudara terbaikku”. Matahari mulai beranjak semakin tepat diatas kepala kami, ketika semilir angin masih setia berhembus. Sekali-kali deru kendaraan menghiasi suasana jelang siang di area kampus, ditengah kota kembang itu. * * * Satu bulan berlalu, kota kembang mulai memasuki musim hujan. Langit mendung dihiasi rintik air hujan menjadi pemandangan yang biasa hadir dalam hari-hari belakangan ini. Alhamdulillah, aku baru saja menyelesaikan reka’at-reka’at ku di sepertiga malam yang indah ini. Menghadap Ia di heningnya malam dalam sujud-sujud panjangku. Mengadu atas segala khilaf dan salah serta memohonkan ampunan dalam tangis dan do’aku. Aku teringat Faizal. Sejenak kuraih ponselku ketika aku berniat menanyakan tentang kabarnya. Tapi belum selesai aku menuliskan isi pesan untuk aku kirimkan kepada dia, sebuah pesan lebih dulu masuk. Aku buka dan aku baca. “Ass akh, insyaAlloh ana berniat mengambil langkah untuk menjalin rumah tangga, dan seusai walimah ana berniat membawa istri ana untuk bersama ke Cairo, meniti langkah baru disana sambil mengejar cita di Al Azhar”. Sebuah pesan dari Faizal lebih dulu masuk di ponselku. Dalam hati kuberucap hamdalah, dan berdo’a semoga ini memang jalan yang terbaik baginya. * * * Sebuah pesta di pinggiran kota kembang kini siap menjemput kebahagiaan sobatku Faizal. Bagaimana tidak, menjadi seorang imam dari seorang bidadari shalelah yang diharap daripadanya dapat terjalin keluarga sakinah, mawaddah warahmah serta terlahir generasi-generasi pejuang pemersatu ummat, setahap lagi akan ia raih. Para undangan semakin memadati pesta pernikahan sobatku. Aku yang saat itu bertugas untuk mengurusi para undangan harus extra keras mengatur kenyamanan mereka. Meskipun malam tadi aku tidak tidur sama sekali mengurusi persiapan pesta penikahan sobatku itu. Tidak sempat lagi aku memperhatikan situasi didalam ruangan walimah. Tepat pukul sembilan pagi, protokoler acara memulai acara walimah, sesekali aku sempatkan untuk melirik ke arah sobatku sambil tersenyum. Ia pun membalas senyumku, seolah berkata, “Terima kasih sobat”. Sesaat kemudian acara walimah akan segera dimulai, dan kini Faizal telah berada didalam ruangan ketika aku masih sibuk mengurusi para undangan. Aku sandarkan tubuhku pada sebuah tiang didepan ruangan walimah untuk memperhatikan ketika sobatku mengucap ijab kabul pernikahannya. Meskipun hanya dari sebuah pengeras suara. Namun, alangkah tersentak kagetnya aku ketika satu persatu kata-kata itu terucap ... “Qobiltu nikahaha Alifa Nurul’aini binti Muhammad Azzam bi mahari .... naqdan ......” Hampir aku tersungkur lemah mendengar semua itu ... “Astaghfirullah yaa Alloh ....., kuatkan diri ini ....”, jeritku dalam hati Ingin rasanya aku berteriak, berlari dan mengangkat telunjukku, mengarakhan pada Faizal, sambil memuntahkan segala sumpah serapahku !!! Namun, aku sadar semua hanya akan berbuah sia-sia. Seluruh hadirin telah mengesahkan ijab kabul yang terucap dari bibir sobatku Faizal. Faizal pun tak layak dipersalahkan, karena ia memang tidak mengetahui apa yang aku harapkan dari seorang Alifa. “Mengapa mesti dia ....”, kembali dalam hati kuterisak Aku berlari, tidak lagi aku pedulikan suasana riuh rendah para tamu undangan, tidak lagi aku perhatikan beberapa teman yang memanggil namaku saat itu, aku meninggalkan pesta pernikahan Faizal. Pernikahannya dengan seorang bidadari yang sesungguhnya lebih aku harapkan dapat hadir sebagai pendamping hidupku, peneguh jalanku ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Namun kini ia telah menjadi milik orang, yang mana orang itu adalah sobatku sendiri. Langkahku terhenti didepan sebuah masjid, kubasuh diri ini dengan air wudhu ... aku tak lagi mampu menahan air mataku, jatuh dan berlalu bersama percikan air wudhu. Aku terjatuh ... lunglai bersujud dihadapanmu ya Rabbi. Aku tahu, bahkan aku sangat tahu dan yakin akan semua yang terbaik dari-Mu, namun mengapa mesti ini yang terjadi ??? * * * 10 tahun berlalu ... Aku masih terduduk di sebuah kursi rotan di depan sebuah rumah kecil namun asri, menikmati secangkir kopi sambil melihat tayangan berita di acara berita pagi sebuah stasiun televisi. Kicauan burung menghiasi indahnya taman bunga yang tumbuh didepan rumahku. Seorang pria berkulit putih dengan janggut tipis dan rambutnya yang agak ikal tampil di sebuah berita sebagai seorang Duta Besar paling muda yang pernah ada di Indonesia. Aku tersenyum bangga, “Faizal ... alhamdulillah ...”, lirihku .... Sesaat kemudian aku berdiri, jauh di ujung sana seorang bidadari sedang bermain bersama dua malaikat-malaikat kecil kami. Ya ... seorang akhwat berjilbab lebar, berkulit putih, berparas cantik, bernama Farah Aina Fadilah telah Alloh pilihkan untuk menjadi bidadariku menyusuri hari, mengaharap ridho Illahi, dalam balutan suci sebuah rumah tangga. “Alhamdulillah yaa Rabb, kupanjatkan syukur pada-Mu ..., kuasa-Mu begitu tak pernah terkira ...”.

KISAH GHULAM



PDF

Pengorbanan seorang budak demi Risalah, dan realiti kisah ini dengan kita

Dari Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir.

Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, ‘Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku telah dekat. Karena itu, utuslah kepadaku seorang anak muda agar aku ajari sihir’.

Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian ia ajari sihir. Dan jalan antara raja dengan tukang sihir itu terdapat seorang rahib. Pemuda itu mendatangi sang rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Sang pemuda begitu kagum kepada rahib dan pembicaraannya.

Begitu ia sampai kepada tukang sihir karena terlambat serta merta ia dipukulnya seraya ditanya, ‘Apa yang menghalangimu?’

Dan bila sampai di rumahnya, keluarganya memukulnya seraya bertanya, ‘Apa yang menghalangimu (sehingga terlambat pulang)?’

Lalu, ia pun mengadukan halnya kepada sang rahib. Rahib berkata, ‘Jika tukang sihir ingin memukulmu katakanlah, aku terlambat karena keluargaku. Dan jika keluargamu hendak memukulmu maka katakanlah, aku terlambat karena (belajar dengan) tukang sihir’.

Suatu kali, ia menyaksikan binatang besar dan menakutkan yang menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak bisa menyeberang. Maka sang pemuda berkata, ‘Saat ini aku akan mengetahui, apakah perintah ahli sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib. Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada perintah tukang sihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia bisa menyeberang’. Lalu ia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh kemudian ia pergi. Maka ia beritahukan halnya kepada rahib. Lalu sang rahib berkata, ‘Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku.

Selanjutnya, pemuda itu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya. Alkisah, ada pejabat raja yang tiba-tiba buta. Ia mendengar tentang pemuda itu. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, ‘Sembuhkanlah aku, dan engkau boleh memiliki semua ini! Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak bisa menyembuhkan seseorang. Yang bisa menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla. Jika Anda beriman kepada Allah dan berdo’a kepadaNya, niscaya Ia akan menyembuhkanmu. Ia lalu beriman dan berdo’a kepada Allah dan sembuh.

Kemudian ia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. Sang raja bertanya, ‘Wahai fulan, siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku’. Raja berkata, ‘Saya?’ ‘Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’, tegasnya. Raja bertanya, ‘Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’. Demikianlah, sehingga ia terus-menerus disiksa sampai ia menunjukkan kepada sang pemuda. Pemuda itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu bisa menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya’. Sang pemuda menangkis, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Raja berkata, ‘Aku?’ ‘Tidak!’, kata pemuda. ‘Apakah kamu punya Tuhan selain diriku?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.

Lalu ia pun terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib. Maka rahib itu pun didatangkan. Sang raja berkata, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada pejabat raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua. Kepada sang pemuda juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak.

Lalu bersama beberapa orang ia dikirim ke gu-nung ini dan itu. (Sebelumnya) sang raja berpetuah, ‘Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka bila ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia! Mereka pun berangkat. Ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu. Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga se-muanya tergelincir. Lalu sang pemuda datang mencari sampai bisa bertemu raja kembali. Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’ Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.

Kembali ia dikirim bersama beberapa orang dalam sebuah perahu kecil. Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan (maka biarkanlah ia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut yang luas dan dalam’. Sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu’. Akhirnya mereka semua tenggelam dan sang pemuda datang lagi kepada raja.

Sang raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’

Ia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.

Lalu sang pemuda berkata, ‘Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan maka engkau akan bisa membunuhku. Jika tidak, engkau tak akan bisa membunuhku’.

Raja penasaran, ‘Perintah apa?’

Sang pemuda menjawab, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari wadah panahku, lalu ucapkan, ‘Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah, Tuhan sang pemuda).

Maka (raja memanahnya) dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang kena panah lalu meninggal dunia. Maka orang-orang berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tahukah Anda, sesuatu yang selama ini Anda takut-kan? Kini sesuatu itu telah tiba, semua orang telah beriman.

Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Dan raja pun bertitah, ‘Siapa yang kembali kepada agama-nya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka lemparkanlah dia ke dalamnya’. Maka orang-orang pun menolaknya sehingga mereka bergantian dilemparkan ke dalamnya. Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Tiba-tiba sang bayi berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”

(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 6/16-18, Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah.

Dan An-Nasa’i serta Hammad bin Zaid menambahkan, yang keduanya dari Tsabit. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Abdurrazak dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanad darinya.

Ibnu Ishaq memasukkannya dalam Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At-Tamir).